Baca cerita sebelumnya, Terminal Bus
Lelaki itu tidak mengatakan apapun lagi setelah aku mengembalikan ponselnya. Ia hanya melihat ke arah luar, aku memandang ke arah yang sama hingga pandanganku perlahan gelap.
"Pantai nya indah sekali, aku mau kesana"
"Baiklah, aku akan menemanimu. Kita akan bermain pasir dan ombak hingga lelah lalu melihat sunset sambil minum es kelapa muda. Gimana?"
"Wahhh itu sangat menyenangkan. Ayolah, tunggu apa lagi"
Aku dan lelaki itu berlari-lari di pinggir pantai, menari-nari sambil berpegangan tangan dan berkejaran. Terselip canda tawa di setiap waktunya. Ini adalah pengalaman paling menyenangkan. Aku menemukan lelaki yang mampu membuatku sebahagia ini. Tak pernah sedikitpun aku terlihat murung atau bersedih ketika bersamanya. Dia selalu menghadirkan senyum dan tawaku.
Hari mulai petang, sang surya mulai kembali ke ufuk barat. Dia seolah mengucapkan selamat tinggal kepada senja dan menanti hadirnya malam. Ombak di pinggir pantai yang terus berdesir, burung-burung yang kembali pulang ke tempatnya, dan es kelapa muda yang menemaniku melihat sunset kali ini begitu menyenangkan. Tak terlupakan.
Dalam keheningan, lelaki itu menatapku. Wajahnya berada tepat diwajahku. Ia terus memandangku. Sesekali tersenyum dan membuatku juga tersenyum. Ia masih saja terus menatap wajahku. Dia mulai memegang pipiku dan kali ini, wajahnya semakin dekat dengan wajahku. Aku terdiam dan tak mampu berbicara sepatah katapun.
"Vita, vit, bangun vit. Kita udah sampai nih", suara itu membuyarkan semua yang ada di hadapanku.
"Bangun vit, kita udah sampai nih", suara itu terdengar lagi.
"Yaampun ternyata cuma mimpi"
"Kamu mimpi apaan vit? Nyenyak banget tidurnya"
"Hehe cuma bunga tidur kok bang"
"Oh yasudah yuk kita keluar ambil barang-barang"
"Iya bang"
Kami tiba disebuah terminal. Suasana begitu riuh, terlihat begitu ramai penumpang yang turun dari bus nya masing-masing dengan barang bawaan yang berbeda-beda. Mulai dari yang hanya membawa ransel, tas selempang dan tas ukuran lumayan besar ditangan sebelahnya, hingga beberapa tas besar yang ntah apa isinya. Aku terus memandang ke sekeliling terminal. Pandanganku tertuju pada seorang lelaki tua yang sedang menjajaki dagangannya . Ia terus berkeliling berharap ada pembeli yang akan membeli dagangan itu. Aku tertarik untuk menghampirinya.
"Pak, ini satunya berapa yaa?" aku melihat keripik dan kacang rebus yang masih lumayan banyak di dalam keranjang yang sedang di pegang oleh bapak itu.
"Keripiknya dua ribu, kalo kacang rebus lima ribu nak. Mau beli berapa banyak?", bapak itu terlihat bersemangat berjualan dagangannya. Ia tidak putus asa hanya karena dagangannya masih banyak.
"Saya beli keripiknya lima kacang rebusnya dua ya pak", aku memberi uang lima puluh ribu.
"Semuanya dua puluh ribu ya, ini uang kamu terlalu banyak nak. Bapak tidak punya kembalian. Dagangan bapak masih sedikit yang terjual. Nanti saja kamu berikan uangnya kalau kembali lagi"
"Kenapa bapak mempercayai saya? Kita tidak saling mengenal"
"Saya yakin kamu adalah orang baik"
"Bagaimana kalau saya tidak kembali lagi untuk membayarkan dagangan yang sudah saya ambil? Bukankah bapak berjualan untuk mendapatkan keuntungan?"
"Bapak berjualan hanya untuk melanjutkan hidup bapak agar tidak mati kelaparan nak, bukan untuk mencari keuntungan besar . Kamu pasti akan berfikir dua kali untuk menipu tua renta. Bukan begitu?"
"Iya bapak benar. Tapi bukankah setiap orang punya pemikiran berbeda? Kenapa sudah seusia ini bapak masih mau berkeliling menjajaki dagangan hanya untuk melanjutkan hidup. Bagaimana dengan anak dan istri bapak?"
"Iya, tapi bapak percaya ALLAH itu adil. Dia tidak mungkin mengingkari usaha hambaNya. Kalau memang rezeki pasti datang kepada kita, berapapun rezekinya kita hanya perlu bersyukur. Kalau ada yang menipu kita, mungkin rezeki itu bukan hak kita. ALLAH pasti akan memberi rezeki yang jauh lebih baik dari itu. Istri bapak sudah meninggal lima tahun yang lalu. Anak-anak bapak sudah berada di luar kota. Mungkin mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya masing-masing"
"Saya salut sekali melihat bapak. Bapak orang yang tabah dan memandang hidup dengan selalu bersyukur. Hari ini saya mendapat pelajaran berharga dari bapak. Maaf kalau saya mengingatkan bapak sama istri bapak. Semoga anak-anak bapak bisa menjenguk bapak di masa tua seperti ini ya. Semoga mereka segera kembali agar bisa merawat ayah yang hebat seperti bapak"
"Kamu masih muda, teruslah belajar dari setiap perjalanan hidup, karena akan begitu banyak pelajaran berharga yang kamu dapatkan. Yang paling penting, kamu harus selalu bersyukur atas nikmat ataupun cobaan yang di berikan ALLAH kepadamu. Itu adalah bukti kasih sayangNya agar kamu lebih kuat menjalani hidup di masa depan dengan segala macam keadaan nantinya. Tidak apa-apa nak, seseorang yang sudah pergi tidak harus dilupakan. Dia pernah menjadi bagian dari hidup kita dan kita pernah bahagia bersamanya, ketika sudah waktunya untuk pergi, ntah Tuhan sudah memanggilnya kembali atau dia bukanlah jodoh kita, kenangan itu terlalu indah untuk dilupakan. Cukup jadikan pelajaran, dan jangan pernah membenci siapapun yang pernah hadir di hidup kita, mereka punya peran dan cerita tersendiri untuk hidup kita. Tetaplah menghargai kehadirannya walaupun ia sudah tiada. Terimakasih atas do'a kamu nak"
"Saya sangat senang bisa bertemu bapak disini, begitu banyak ilmu yang saya dapatkan. Semoga saya bisa lebih baik kedepannya dan akan terus belajar seperti pesan bapak. Terimakasih untuk pelajaran berharga yang sudah bapak berikan. Maaf saya harus pergi, teman saya sudah menunggu lama disana. Kembaliannya buat bapak saja ya. Semoga ALLAH masih mempertemukan kita di lain waktu. Jaga kesehatan bapak ya, semoga ALLAH senantiasa melindungi bapak dalam hal apapun"
"Iya nak, terimakasih. Semoga hal baik selalu bersamamu. Pergilah, hati-hati dalam perjalanan. Semoga ALLAH mengabulkan do'a-do'amu nak. Begitu juga do'a bapak untukmu"
Aku berpamitan dan mencium tangan bapak itu, aku menganggapnya adalah guru. Aku belajar banyak darinya hanya dalam waktu sesingkat ini. Dari jauh lelaki itu sudah memanggilku. Sepanjang perjalanan menemuinya, hatiku tersentak, aku teringat akan perkataan bapak tadi. Begitu besar hatinya dan mulia sekali sifatnya. Ia adalah orang yang hebat, hatinya sungguh mulia. Ia tidak menaruh curiga kepada orang lain karena ia percaya apapun yang menjadi hak dan rezeki kita akan datang kepada kita. Meskipun ia membiarkan pembelinya pergi dan kembali lagi nanti. Rezeki tak akan pernah tertukar, ALLAH itu maha adil dan takkan menyia-nyiakan hasil dari usaha dan kerja keras hambaNya. Tak terasa aku sudah tiba di hadapan lelaki itu.
"Kamu darimana aja sih Vit, aku kebingungan nyariin kamu. Ini barang-barang kamu udah aku turunin semua ya"
"Nih buat abang, tadi aku liat bapak tua disana sedang jualan keliling. Aku tertarik buat beli dagangan nya. Ternyata sampai disana, aku bukan cuma dapat ini tapi dapat begitu banyak pelajaran penting dari bapak itu. Ia orang yang hebat dan berhati mulia. Dia menyadarkan aku agar selalu bersyukur atas apa yang sudah kita miliki. Aku salut banget sama bapak itu"
"Bagus dong, berarti itu bisa jadi pembelajaran buat pendewasaan diri kamu. Kamu harus terus belajar, begitupun aku. Gak ada kata cukup dan berhenti untuk terus belajar. Bahkan kita harus terus belajar seumur hidup"
"Iya bang, makasih ya sudah mengingatkan aku lagi"
"Iya Vit, kita kan harus saling mengingatkan. Kamu mau kemana sekarang?"
" Kayanya aku mau cari makan dulu deh bang, lapar banget nih. Tadi aku kelamaan tidur di bus. Abang udah makan?"
"Belum vit, yuk barengan aja kita makannya. Kalau di warung ujung sana itu aja gimana?", lelaki itu menunjuk sebuah warung nasi padang.
"Iya boleh bang. Yuk kita kesana"
Kami berjalan hingga tiba di warung itu. Setelah memesan makanan, aku tiba-tiba saja teringat pacarku. Sedang apa ya dia, kenapa seharian ini dia tidak mengabariku. Apa dia terlalu sibuk bahkan tidak punya waktu sedikit pun meski hanya mengirim pesan singkat? Dan seingatku, beberapa waktu lalu sebelum aku tertidur, aku sempat mengirimnya pesan singkat menggunakan ponsel lelaki itu. Apa dia tidak membalasnya? Berbagai spekulasi timbul dalam benakku. Hatiku berbisik,aku tidak boleh terus seperti ini, aku harus langsung menanyakannya kepada lelaki itu.
"Seingat aku tadi sebelum ketiduran di bus, aku pinjam ponsel abang buat ngabari pacarku ya?"
"Iya Vit, tadi dia juga sempat nelfon. Aku bilang kamu sedang tidur, aku mau bangunin kamu katanya biarin aja dulu kamu istirahat nanti kalau udah tiba dia suru kamu ngabarin. Maaf kalau aku lupa bilang sama kamu sampai kamu harus nanya dulu ke aku gini"
"Iya gak apa-apa kok bang, makasih ya uda ngasih tau aku soal ini. Maaf juga udah ngerepotin abang dari awal kita ketemu di terminal bus"
"Iya sama-sama Vita, aku gak pernah ngerasa direpotin sama kamu. Aku seneng kok bisa bantuin kamu"
"Yasudah aku mau cek ponselku dulu di tas bawaan ini ya bang, kayanya aku taruh ponselku disini deh"
"Apa kamu nggak makan dulu aja? Nanti kamu sakit perut, lagian makannya uda datang nih. Kan tadi kamu bilang kamu lapar banget, makanannya gak enak kalau udah dingin"
"Iya juga sih bang, perutku udah demo terus nih. Yasudah yuk kita makan dulu"
"Iya nanti aku bantuin kamu nyari ponsel kamu ya"
"Iya bang"
Aku dan lelaki itu menikmati santapan lezat dengan beberapa obrolan ringan menemani makan malam kami. Setelah selesai makan, seperti janjinya di awal, lelaki itu membantuku mencari ponsel di tas bawaanku itu. Setelah beberapa menit mengacak-acak isi tas itu, akhirnya aku menemukan ponselku dan lelaki itu membantuku merapikan kembali isi tasku.
"Alhamdulillah akhirnya ketemu juga ponsel ini. Makasih banget ya bang"
"Iya Vita, kamu terlalu banyak berterimakasih sama aku"
"Karena abang terlalu banyak membantuku", aku menatap lelaki itu dan kami saling tertawa.
Aku langsung mengecek ponselku, dan melihat ada sepuluh panggilan tak terjawab dan lima pesan masuk. Semuanya itu dari pacarku, Riko.
Sayang kamu udah dimana?
Sayang kamu udah baikan?
Sayang aku udah pulang kerja ni, kamu lagi dimana sih? Ponsel kamu belum ketemu ya?
Sayang tadi aku telfon ke nomer yang kamu pake buat sms aku, tadi kamu sedang tidur aku cuma gak mau ganggu istirahat kamu. Cepat kabari aku ya!! Love you:*
Sayang kamu susah banget di hubungi, kamu dimana sih? Udah jam segini kenapa belum ngabari aku? Aku khawatir, kamu jaga diri baik-baik ya
Setelah membaca semua isi pesan itu, aku langsung menelfon Riko. Hanya sekali sambungan, Riko langsung mengangkat telfonku.
"Kamu kemana aja sayang? Kamu nggak kenapa-kenapa kan? Kenapa lama banget ngabarin aku?"
"Tumben kamu segini khawatirnya sama aku. Biasanya kalau aku pergi kamu cuek aja. Maaf kalau aku buat kamu khawatir, tadi aku ketiduran di bus. Ponselku baru aja ketemu di tas, aku baru siap makan makanya ini langsung hubungi kamu. Aku baik-baik aja kok, aku sama bang Dimas disini, lelaki yang aku temui di terminal bus. Dia yang bantuin aku selama dalam perjalanan, kamu udah bicara sama dia tadi kan?"
"Gimana aku nggak khawatir, seharian kamu sama lelaki yang baru kamu kenal sementara aku sedang sibuk. Maafin aku karena gak bisa nemenin kamu sampe harus ada lelaki di luar sana yang menggantikan posisiku. Aku terlalu sibuk sama pekerjaanku sampe sering ngabaikan kamu. Aku janji nanti kalau kamu pulang aku akan luangkan waktuku seharian buat kita berdua. Kamu baik-baik ya disana, jaga kesehatan kamu"
"Iya sayang, aku juga minta maaf kalau selama ini punya dunia sendiri karena kamu sibuk banget. Mungkin ini jalan yang di kasih ALLAH buat memperbaiki hubungan kita yang udah mulai renggang karena komunikasi yang kurang baik. Kepergianku ini buat kita supaya bisa saling instropeksi agar hubungan kita lebih baik dan lebih kuat. Aku dapat pelajaran berharga selama dalam perjalanan. Bang Dimas orang yang baik, aku baik-baik aja disini. Dia juga mengajarkanku pelajaran baru. Aku pegang janji kamu ya, minggu depan aku sudah pulang. Aku sayang banget sama kamu, Riko"
"Iya sayang, sepertinya baru seharian kamu dalam perjalanan ada hal baik yang merubahmu. Iya aku sadar sekarang, kalau kamu berarti banget buat aku. Aku percaya sama kamu, iya sayang aku pasti tepatin janjiku. Aku juga sayang banget sama kamu,Vita"
"Iya sayang, yasudah aku mau kerumah saudara dulu ya. Takutnya nanti malam banget. Aku mau cerita banyak hal sama kamu tentang perjalananku hari ini. Nanti kalau udah dirumah saudaraku, aku kabari lagi ya"
"Yasudah sayang, aku tunggu kabar kamu ya. Kamu hati-hati. Love you mmuahh"
"Iya sayang,love you too", aku sudah memutuskan panggilan itu.
Aku langsung menemui lelaki itu. Sepertinya cukup lama aku meninggalkannya di dalam warung. Aku masuk lagi ke warung itu dan melihatnya masih menikmati segelas kopi dan musik dengan earphone di telinganya. Aku langsung menghampirinya.
"Bang Dimas", aku menepuk punggungnya.
"Eh iya Vit, udah selesai telfonannya?", lelaki itu melepaskan earphone dari telinganya.
"Udah bang, maaf ya udah nunggu lama"
"Iya gak apa-apa kok Vit, yaudah yuk kita pergi. Kamu mau nginap dimana?"
"Aku mau kerumah saudara bang, abang kemana?"
"Aku nginap dirumah temenku Vit. Yaudah yuk aku antarin kamu. Gak baik anak gadis pergi sendirian sudah malam begini"
"Iya bang, aku ngerasa punya bodyguard sekarang, hehehe"
Lelaki itu tertawa mendengar ucapanku,"Kamu bisa aja Vit. Yaudah yuk"
Aku dan lelaki itu meninggalkan warung dan pergi ke rumah saudaraku. Selama perjalanan, seperti biasanya lelaki itu selalu mempunyai obrolan yang menyenangkan untuk membuatku tertawa. Kami membicarakan banyak hal dan tidak terasa aku sudah tiba dirumah saudaraku.
"Akhirnya sampai juga, aku sudah lelah seharian dalam perjalanan. Makasih ya bang sudah mengantarkanku hingga kesini. Aku gak tau gimana balas kebaikan abang yang sudah sejauh ini"
"Iya Vita. Yaudah kamu istirahat gih, kamu gak perlu mikirin cara ngebalas kebaikan aku. Kalau ALLAH mengizinkan, kita akan ketemu lagi. Kamu bilang mau ke sabang kan? Kita akan ketemu lagi disana seizin ALLAH. Yaudah masuk sana, langsung istirahat ya jangan tidur terlalu malam. Kamu sudah kecapek-an. Aku pulang ya, sampai ketemu di lain waktu", lelaki itu meninggalkan rumah saudaraku. Aku langsung masuk ke dalam rumah.
Sejak malam itu, aku tak pernah lagi bertemu lelaki itu. Kami tak pernah bertukar nomer ponsel. Bahkan ketika aku tiba di Sabang pun aku tak bertemu dengannya. Aku teringat tentang apa yang pernah dikatakan oleh bapak tua di terminal bus beberapa waktu lalu, bersyukurlah atas nikmat dan cobaan yang ALLAH berikan untuk kita karena itu tanda kasih sayangNya kepada kita agar kita bisa mengambil pelajaran sehingga lebih kuat menghadapi bagaimanapun keadaan di masa yang akan datang. Hari ini aku mengerti, bahwa aku harus besyukur karena sudah memiliki Riko. Aku hanya perlu membina agar hubungan kami lebih baik. Sementara bang Dimas, adalah cobaan yang memberikanku pelajaran untuk menghargai apa yang sudah kumiliki dan setia kepadanya. Teruslah belajar dan memaknai apapun pelajaran dalam hidup agar kita mampu menghargai waktu dan setiap hal yang mengisi hidup kita.