Ketika kamu mencintai makhluk karena kesempurnaan fisiknya, hartanya, atau bahkan jabatannya. Bagaimana caramu mencintai-Nya yang bahkan kau tak bisa melihat wujudnya?
Cinta bukan tentang mencari kesempurnaan atau menilai kekurangan. Tapi tentang ketulusan, rasa, dan keyakinan. Bahwa cinta yang hakiki bukan dilihat dari parasnya, karena kita tahu bahwa kecantikan rupa akan sirna pada masanya. Cinta bukan tentang keegoisan ingin dipahami dan dimengerti, tapi tentang ketulusan untuk terus memberikan dan melakukan yang terbaik. Cinta bukan tentang perasaan sesaat yang hadir hanya karena perlakuan baik seseorang, tapi tentang rasa yang hadir tanpa perlu penjelasan. Rasa itu akan terus hidup dalam hatimu ketika kamu benar-benar mencintai-Nya. Cinta bukan tentang angan-angan atau halusinasi yang bisa hilang begitu saja. Tapi, cinta adalah tentang keyakinan bahwa mencintai tak harus melihat wujud nyata diri-Nya. Karena keyakinanmu, Dia ada dalam hatimu dan selalu dekat denganmu.
Setiap hati memiliki rasa yang tak mampu tersampaikan. Ia hanya bisa terdiam dan memendam. Menikmati setiap rindu yang hanya mampu di sampaikan lewat kata-kata. Aku terdiam bisu, sampai kapankah perasaan ini mampu bertahta di hatiku? Bahkan ketika wujudnya tak mampu ku tatap dengan pasti. Tapi, aku percaya bahwa cinta bukan ketika kau melihat bagaimana wujudnya, bukan saat kau mendengar rayuan manisnya, atau bahkan bukan karena caranya memperlalukan kamu dengan nyata. Cinta itu tentang rasa dan keyakinan. Ketika kamu merasakan Dia dalam hatimu dan meyakinkan hal itu benar adanya, kau akan rasakan betapa indahnya mencintai tanpa alasan. Karena kamu percaya, bahwa Dia-lah pemilik cinta.
Pantaskah kita mencintai makhluk dengan sepenuh jiwa raga, bahkan mengorbankan diri sendiri hanya untuk mendapatkan cintanya ? Apakah kita lupa bahwa pemilik cinta yang sesungguhnya adalah Dia? Bagaimana bisa kita berharap pada ciptaan-Nya sedalam itu? Dia telah mengatur segalanya, percayalah bahwa cintamu sudah di tentukan oleh-Nya. Kadang kita lupa, terlalu lelah berjuang untuk seseorang yang kita cintai hanya untuk mendapatkan hatinya yang bahkan tak sedikitpun melihat perjuangan itu. Padahal, ketika kita berjuang untuk mengejar cinta dari-Nya maka cintamu akan hadir tepat pada waktunya dengan cara yang sangat mengagumkan.
Cinta itu sederhana. Hanya antara sujud beralaskan sajadah. Kamu menceritakan isi hatimu pada-Nya lalu kamu dapatkan ketenangan di dalamnya. Karena sejatinya, cinta itu membahagiakan. Bukan membuatmu bersedih, dan berharap terlalu banyak untuk pengharapan yang sia-sia. Cukuplah pengharapanmu pada Sang Pemilik Cinta. Karena Dia-lah yang sudah menentukan segalanya. Teruslah memohon pada-Nya untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Ketika kamu tidak dapatkan cinta di dunia, maka percayalah cintamu sedang menanti di surga.
Pernahkah kamu berfikir tentang cinta-Nya yang begitu besar untukmu? Ketika kamu masih melakukan begitu banyak dosa dan kesalahan, Dia masih memelukmu dalam setiap do'a-do'a yang kau pinta lalu mengabulkannya. Tidak merasa malu kah kita melihat cinta yang begitu besar dari-Nya tanpa pernah berfikir untuk mencintai-Nya lebih besar lagi? Dia selalu ada bersamamu, di dalam kesedihan maupun kebahagiaan. Di dalam musibah ataupun kenikmatan, kehidupan dan kematian ada pada-Nya. Lalu, sesombong itukah kita kepada-Nya? Hanya datang ketika memohon pertolongan, lalu pergi dan melupakan ketika kenikmatan menghampiri. Jangan lupa bersyukur, bahwa di dunia ini masih ada cinta luar biasa yang tidak bisa dijelaskan dengan segala bentuk prosa namun begitu bermakna ketika kau mampu merasakannya. Cinta Rabb-mu adalah segalanya. Dia-lah pemilik cinta sesungguhnya. Berhenti berfikir dan bersedih bahwa kamu kesepian hanya karena tidak ada cinta dari seorang makhluk. Tapi, bersedihlah ketika kamu tidak mampu mencintai-Nya dan tidak merasakan cinta yang begitu besar dari-Nya untukmu.
Cinta adalah anugerah. Ia suci dalam kelembutan. Ketika kamu mampu menodai cinta dengan kemunafikan, pengkhianatan, kelalaian, kemaksiatan, dan kesombongan. Maka itu bukanlah cinta, tapi hanya ambisi. Pencitraan untuk mendapatkan pengakuan bahwa kau benar-benar mencintai. Karena cinta adalah menjaga. Kamu akan takut melupakan Rabb-mu ketika kamu mencintai-Nya, kamu akan menjaga waktu shalatmu ketika kamu benar-benar mencintai-Nya, kamu akan menjaga perilakumu jika memang benar kamu mencintai-Nya, dan kamu tidak akan pernah mengecewakan-Nya dengan pengkhiatan dan dusta jika benar Dia-lah cintamu. Perintah dan larangan-Nya adalah pedoman hidupmu, itulah bukti cinta sesungguhnya kepada Rabb-mu.
Lakukan yang terbaik dalam hidup, jangan pernah lupa untuk bersyukur. Mencintai dengan ketulusan, rasa, dan keyakinan. Cintai dirimu dan Rabb-mu maka kamu akan selalu menghargai kehidupanmu.