Senin, 28 Desember 2015

Jaga dan Lestarikan Alam Kita

     Setiap orang menyukai keindahan dan tempat yang menyenangkan untuk berlibur, atau sekedar ingin menghabiskan waktu dengan orang-orang yang disayanginya. Banyak tempat wisata yang menjadi tujuan, seperti tempat-tempat bersejarah, pantai, taman, gunung, hutan, dll. Semua orang akan merasa senang dan mengabadikan moment indah itu dengan caranya masing-masing. Tapi bagaimana jika keindahan yang seharusnya dijaga dan dilestarikan malah jadi rusak karena ulah para pengunjung yang tidak tau aturan dan tidak bertanggung jawab ?
     Begitu banyak kejadian yang kita lihat akhir-akhir ini di sosial media. Berapa banyak pendaki yang salah mengartikan perjalanan nya sebagai ajang ikut trend, bukan untuk mawas diri, memahami bahwa kita dan alam harus hidup berdampingan, dengan tindakan memalukan seperti menumpuk sampah di gunung yang bisa mencemari alam dan membuat kerusakan. Ketika kita mampu membawa carier yang begitu berat, apa salahnya membawa sampah ringan ikut bersama kita saat naik dan turun. Mungkin sampah yang ringan dan kecil dianggap sepele, tapi ketika hampir seluruh pendaki berfikir seperti itu bagaimana jadinya ? Sampah yang tadinya ringan akan menjadi berat dan menumpuk sehingga mencemari lingkungan. 
     Di lain hal, kita juga tau bahwa ada sekelompok orang atau lebih tepatnya remaja yang mau eksis dengan cara yang salah. Mereka berfoto untuk mengabadikan moment bermain di taman dengan bunga-bunga yang indah tapi malah merusak bunganya karna terinjak-injak oleh kaki mereka. Ketika kita ingin melakukan sesuatu hal berfikir lah dulu. Untuk beli bunga yang indah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Ini bukan hanya masalah pemerintah, tapi masalah kita bersama. Kalau kotanya indah, sudah pasti yang bangga masyarakatnya juga, bukan.
     Dan beberapa hari yang lalu, tepatnya Sabtu, 26 Desember 2015 bertepatan dengan 11 tahun Tsunami, ada kejadian jembatan runtuh di area Hutan Kota Langsa, Aceh. Masalah ini di karenakan kapasitas yang berlebihan. Jembatan yang seharusnya hanya menampung 40 orang, di lewati lebih dari 60 orang. Terlalu banyak orang yang ingin berfoto sehingga membuat kemacetan di sepanjang jembatan. Karena jembatan yang tidak kuat menampung kapasitas yang berlebihan jadilah ia runtuh dan rusak. Seharusnya kita bisa lebih pintar dalam menikmati tempat wisata dan keindahan alam. Tidak ada salahnya mengabadikan moment. Tapi berfikirlah bijak sebelum bertindak. Jembatan yang tadinya sudah menjadi salah satu ikon di Hutan Kota yang sudah bisa kita nikmati dan jaga bersama agar bisa di nikmati oleh semuanya malah harus rusak karena ulah kita sendiri. Jadilah mengulang kerjaan yang sudah selesai. Ini juga akan menghabiskan waktu dan biaya lagi untuk memperbaikinya. Dan bukan dalam jumlah yang sedikit. Mungkin untuk sebagian orang berfikir ini adalah musibah. Benar, ini adalah musibah. Tapi alangkah lebih baik jika kita bisa berfikir lebih jauh untuk menghindari musibah itu terjadi. Pabila kita tilik lagi, pasti banyak pengunjung yang mengalami kerugian karena handphone nya yang terjatuh ke dalam air dan mengenai keselamatan dan kondisi mereka.
     Kemanapun kita pergi untuk berlibur atau sekedar menghabiskan waktu dengan orang-orang yang kita sayangi, jangan pernah membuat kerusakan baik itu di taman, gunung, bahkan hutan, dan lain-lain. Karena akan merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Jaga dan lestarikanlah alam dan berbagai tempat wisata agar bisa dinikmati tidak hanya untuk generasi kita tapi hingga anak cucu kita nantinya. Bagaimana jadinya jika keindahan itu tidak lagi bisa dirasakan. Sungguh sangat menyedihkan. Be smart love, guys. Ketika kamu mencintai alam dan keindahannya, cintai juga dirimu dan lingkunganmu agar tidak terjadi kerusakan yang bisa membuat semuanya tercemar sehingga bisa dinikmati bersama-sama. Jangan bangga ketika kamu bisa mem-posting berbagai tempat indah diseluruh Indonesia dan sudah merasa ikut trend yang lagi hits tapi tidak mampu menjaga dan melestarikannya.Karena yang keren itu menjaga bukan merusak. Cintai alam, cintai dirimu, dan cintai lingkunganmu!! Salam lestari


Sabtu, 26 Desember 2015

Rasa butuh Logika

     Setiap orang memiliki perasaan, baik itu cinta, kasih dan sayang. Perasaan itu bisa di tujukan kepada siapa saja yang memiliki arti bagi kita. Kita terus berjuang untuk mereka bagaimanapun keadaannya. Namun, bagaimana ketika perasaan tak bisa di ungkapkan? Atau lebih tepatnya malu dan sulit untuk dikatakan. Apakah kita harus terus memendam, diam, dan menikmati segala kebisuan yang meradang? Menurutku tidak!
     Perasaan bukanlah suatu hal yang bisa disalahkan. Kepada siapapun kau jatuh cinta, kau akan jatuh tanpa perlu melihat kebenarannya. Karna sejatinya memang tak ada yang salah ataupun benar. Ketika seseorang jatuh cinta pada sahabatnya, atau siapapun yang sudah begitu dekat dengannya, ia akan malu untuk mengatakan yang sebenarnya karna mengungkapkan perasaan bukanlah perihal menyenangkan ketika tak disambut pemiliknya. Ada banyak hal yang harus kau pertaruhkan untuk kejujuran ini. Tidak semua orang mampu melakukannya. Kau harus siap mendengar pernyataan bahwa ia tidak memiliki rasa yang sama untukmu, atau bahkan mengabaikanmu, dan semuanya akan berubah seketika. Seberapapun kau dekat dengannya, mengetahui segala tentangnya, dan sudah melewati begitu banyak waktu bersamanya. Bukan berarti kau bisa memaksakan perihal hatinya. 
     Perasaan seseorang tak pernah bisa di paksa. Ia tidak memilih kepada siapa ia akan jatuh cinta. Tapi ketika ia sudah jatuh, ia akan berjuang untuk seseorang yang sering kali sedang memperjuangkan seseorang yang lain. Seperti yang ku sampaikan di awal, perasaan tak pernah bisa disalahkan. Hanya saja, kadang kita jatuh di waktu dan orang yang tidak tepat. Mungkin inilah pelajaran untukmu yang sibuk memperjuangkan orang lain sementara di belakangmu, ada dia yang senantiasa menunggu tanpa pernah mengeluh atau bahkan meninggalkanmu. 
     Menurutku, diam bukanlah hal yang tepat ketika kau sudah berjuang terlalu jauh untuk orang yang sama sekali tidak melihat usahamu. Kau harus punya keberanian untuk menyampaikan padanya bahwa rasamu pantas untuk di hargai. Agar kau mampu mengambil sikap untuk melangkah atau berhenti. Tidak harus malu atau ragu untuk menyampaikannya, karena menurut hematku kejujuran adalah hal yang terlihat kecil padahal berpengaruh sangat besar. Karena hal terburuk yang bisa kita lakukan adalah berbohong pada diri sendiri. Ketika rasamu tidak disambut, berhentilah. Jangan pernah berfikir suatu saat nanti ia akan punya perasaan yang sama untukmu dan kau terus berjuang untuknya. Kau juga berhak untuk dicintai, akan sangat sia sia ketika kau menua hanya dengan sebuah pengharapan yang kau ciptakan sendiri. Bukalah hatimu untuk cinta yang baru, meski itu juga butuh waktu. Tapi setidaknya, kau tidak lagi berharap pada seseorang yang tidak mengharapkanmu. 
     Kalaulah kau begitu menyayanginya dan ingin hidup bersamanya. Ingatlah masih ada Tuhan dalam hidupmu. Cukuplah beri pengharapan pada Sang Maha Pencipta, karena Dia-lah yang menentukan segalanya. Karena yang paling mengecewakan adalah ketika kau berharap pada manusia. Allah maha membolak-balikkan hati manusia. Sampaikan harapanmu pada setiap bait-bait sujud pada Rabb-mu agar do'a-do'a itu menembus langit dan dikabulkan oleh-Nya. Tapi, ketika do'a yang kau sampaikan tak sesuai keinginan, maka percayalah rencana Tuhan jauh lebih baik dari inginmu. Berdo'alah yang baik-baik karena kebaikan itu akan tetap sampai kepadamu meski bukan dengan orang yang namanya sering kau sebut dalam permohonan pada Rabb-mu.  
     Pada akhirnya, kau akan menyadari bahwa rasa adalah anugerah yang diberikan Tuhan dan harus disampaikan meski tak di hargai atau bahkan terabaikan. Memendam hanya akan membuatmu sakit dan terluka, ketika ia tak pernah tau akan rasamu. Rasa juga butuh logika. Agar kau tidak jatuh berkali-kali pada orang yang sama dengan perasaan menyakitkan. Kau akan terlihat sangat menyedihkan. Kau tak bisa berpura-pura buta untuk hal yang sudah terlihat nyata. Kadang kau terlalu sibuk berjuang untuk orang lain, hingga lupa membahagiakan dirimu sendiri. Jangan lupa bahagia, banyak orang yang membutuhkan senyummu😊

Jumat, 06 Maret 2015

Terminal Bus End


Baca cerita sebelumnya, Terminal Bus

          Lelaki itu tidak mengatakan apapun lagi setelah aku mengembalikan ponselnya. Ia hanya melihat ke arah luar, aku memandang ke arah yang sama hingga pandanganku perlahan gelap.

          "Pantai nya indah sekali, aku mau kesana"

          "Baiklah, aku akan menemanimu. Kita akan bermain pasir dan ombak hingga lelah lalu melihat sunset sambil minum es kelapa muda. Gimana?"

          "Wahhh itu sangat menyenangkan. Ayolah, tunggu apa lagi"

          Aku dan lelaki itu berlari-lari di pinggir pantai, menari-nari sambil berpegangan tangan dan berkejaran. Terselip canda tawa di setiap waktunya. Ini adalah pengalaman paling menyenangkan. Aku menemukan lelaki yang mampu membuatku sebahagia ini. Tak pernah sedikitpun aku terlihat murung atau bersedih ketika bersamanya. Dia selalu menghadirkan senyum dan tawaku.

          Hari mulai petang, sang surya mulai kembali ke ufuk barat. Dia seolah mengucapkan selamat tinggal kepada senja dan menanti hadirnya malam. Ombak di pinggir pantai yang terus berdesir, burung-burung yang kembali pulang ke tempatnya, dan es kelapa muda yang menemaniku melihat sunset kali ini begitu menyenangkan. Tak terlupakan.

          Dalam keheningan, lelaki itu menatapku. Wajahnya berada tepat diwajahku. Ia terus memandangku. Sesekali tersenyum dan membuatku juga tersenyum. Ia masih saja terus menatap wajahku. Dia mulai memegang pipiku dan kali ini, wajahnya semakin dekat dengan wajahku. Aku terdiam dan tak mampu berbicara sepatah katapun.

          "Vita, vit, bangun vit. Kita udah sampai nih", suara itu membuyarkan semua yang ada di hadapanku.

          "Bangun vit, kita udah sampai nih", suara itu terdengar lagi.

          "Yaampun ternyata cuma mimpi"

          "Kamu mimpi apaan vit? Nyenyak banget tidurnya"

          "Hehe cuma bunga tidur kok bang"

         "Oh yasudah yuk kita keluar ambil barang-barang"

         "Iya bang"

          Kami tiba disebuah terminal. Suasana begitu riuh, terlihat begitu ramai penumpang yang turun dari bus nya masing-masing dengan barang bawaan yang berbeda-beda. Mulai dari yang hanya membawa ransel, tas selempang dan tas ukuran lumayan besar ditangan sebelahnya, hingga beberapa tas besar yang ntah apa isinya. Aku terus memandang ke sekeliling terminal. Pandanganku tertuju pada seorang lelaki tua yang sedang menjajaki dagangannya . Ia terus berkeliling berharap ada pembeli yang akan membeli dagangan itu. Aku tertarik untuk menghampirinya.

          "Pak, ini satunya berapa yaa?" aku melihat keripik dan kacang rebus yang masih lumayan banyak di dalam keranjang yang sedang di pegang oleh bapak itu.

          "Keripiknya dua ribu, kalo kacang rebus lima ribu nak. Mau beli berapa banyak?", bapak itu terlihat bersemangat berjualan dagangannya. Ia tidak putus asa hanya karena dagangannya masih banyak.

          "Saya beli keripiknya lima kacang rebusnya dua ya pak", aku memberi uang lima puluh ribu.

          "Semuanya dua puluh ribu ya, ini uang kamu terlalu banyak nak. Bapak tidak punya kembalian. Dagangan bapak masih sedikit yang terjual. Nanti saja kamu berikan uangnya kalau kembali lagi"

          "Kenapa bapak mempercayai saya? Kita tidak saling mengenal"

          "Saya yakin kamu adalah orang baik"

          "Bagaimana kalau saya tidak kembali lagi untuk membayarkan dagangan yang sudah saya ambil? Bukankah bapak berjualan untuk mendapatkan keuntungan?"

          "Bapak berjualan hanya untuk melanjutkan hidup bapak agar tidak mati kelaparan nak, bukan untuk mencari keuntungan besar . Kamu pasti akan berfikir dua kali untuk menipu tua renta. Bukan begitu?"

          "Iya bapak benar. Tapi bukankah setiap orang punya pemikiran berbeda? Kenapa sudah seusia ini bapak masih mau berkeliling menjajaki dagangan hanya untuk melanjutkan hidup. Bagaimana dengan anak dan istri bapak?"

          "Iya, tapi bapak percaya ALLAH itu adil. Dia tidak mungkin mengingkari usaha hambaNya. Kalau memang rezeki pasti datang kepada kita, berapapun rezekinya kita hanya perlu bersyukur. Kalau ada yang menipu kita, mungkin rezeki itu bukan hak kita. ALLAH pasti akan memberi rezeki yang jauh lebih baik dari itu. Istri bapak sudah meninggal lima tahun yang lalu. Anak-anak bapak sudah berada di luar kota. Mungkin mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya masing-masing"

          "Saya salut sekali melihat bapak. Bapak orang yang tabah dan memandang hidup dengan selalu bersyukur. Hari ini saya mendapat pelajaran berharga dari bapak. Maaf kalau saya mengingatkan bapak sama istri bapak. Semoga anak-anak bapak bisa menjenguk bapak di masa tua seperti ini ya. Semoga mereka segera kembali agar bisa merawat ayah yang hebat seperti bapak"

          "Kamu masih muda, teruslah belajar dari setiap perjalanan hidup, karena akan begitu banyak pelajaran berharga yang kamu dapatkan. Yang paling penting, kamu harus selalu bersyukur atas nikmat ataupun cobaan yang di berikan ALLAH kepadamu. Itu adalah bukti kasih sayangNya agar kamu lebih kuat menjalani hidup di masa depan dengan segala macam keadaan nantinya. Tidak apa-apa nak, seseorang yang sudah pergi tidak harus dilupakan. Dia pernah menjadi bagian dari hidup kita dan kita pernah bahagia bersamanya, ketika sudah waktunya untuk pergi, ntah Tuhan sudah memanggilnya kembali atau dia bukanlah jodoh kita, kenangan itu terlalu indah untuk dilupakan. Cukup jadikan pelajaran, dan jangan pernah membenci siapapun yang pernah hadir di hidup kita, mereka punya peran dan cerita tersendiri untuk hidup kita. Tetaplah menghargai kehadirannya walaupun ia sudah tiada. Terimakasih atas do'a kamu nak"

          "Saya sangat senang bisa bertemu bapak disini, begitu banyak ilmu yang saya dapatkan. Semoga saya bisa lebih baik kedepannya dan akan terus belajar seperti pesan bapak. Terimakasih untuk pelajaran berharga yang sudah bapak berikan. Maaf saya harus pergi, teman saya sudah menunggu lama disana. Kembaliannya buat bapak saja ya. Semoga ALLAH masih mempertemukan kita di lain waktu. Jaga kesehatan bapak ya, semoga ALLAH senantiasa melindungi bapak dalam hal apapun"

          "Iya nak, terimakasih. Semoga hal baik selalu bersamamu. Pergilah, hati-hati dalam perjalanan. Semoga ALLAH mengabulkan do'a-do'amu nak. Begitu juga do'a bapak untukmu"

          Aku berpamitan dan mencium tangan bapak itu, aku menganggapnya adalah guru. Aku belajar banyak darinya hanya dalam waktu sesingkat ini. Dari jauh lelaki itu sudah memanggilku. Sepanjang perjalanan menemuinya, hatiku tersentak, aku teringat akan perkataan bapak tadi. Begitu besar hatinya dan mulia sekali sifatnya. Ia adalah orang yang hebat, hatinya sungguh mulia. Ia tidak menaruh curiga kepada orang lain karena ia percaya apapun yang menjadi hak dan rezeki kita akan datang kepada kita. Meskipun ia membiarkan pembelinya pergi dan kembali lagi nanti. Rezeki tak akan pernah tertukar, ALLAH itu maha adil dan takkan menyia-nyiakan hasil dari usaha dan kerja keras hambaNya. Tak terasa aku sudah tiba di hadapan lelaki itu.

          "Kamu darimana aja sih Vit, aku kebingungan nyariin kamu. Ini barang-barang kamu udah aku turunin semua ya"
          "Nih buat abang, tadi aku liat bapak tua disana sedang jualan keliling. Aku tertarik buat beli dagangan nya. Ternyata sampai disana, aku bukan cuma dapat ini tapi dapat begitu banyak pelajaran penting dari bapak itu. Ia orang yang hebat dan berhati mulia. Dia menyadarkan aku agar selalu bersyukur atas apa yang sudah kita miliki. Aku salut banget sama bapak itu"

          "Bagus dong, berarti itu bisa jadi pembelajaran buat pendewasaan diri kamu. Kamu harus terus belajar, begitupun aku. Gak ada kata cukup dan berhenti untuk terus belajar. Bahkan kita harus terus belajar seumur hidup"

          "Iya bang, makasih ya sudah mengingatkan aku lagi"

          "Iya Vit, kita kan harus saling mengingatkan. Kamu mau kemana sekarang?"

          " Kayanya aku mau cari makan dulu deh bang, lapar banget nih. Tadi aku kelamaan tidur di bus. Abang udah makan?"

          "Belum vit, yuk barengan aja kita makannya. Kalau di warung ujung sana itu aja gimana?", lelaki itu menunjuk sebuah warung nasi padang.

          "Iya boleh bang. Yuk kita kesana"

          Kami berjalan hingga tiba di warung itu. Setelah memesan makanan, aku tiba-tiba saja teringat pacarku. Sedang apa ya dia, kenapa seharian ini dia tidak mengabariku. Apa dia terlalu sibuk bahkan tidak punya waktu sedikit pun meski hanya mengirim pesan singkat? Dan seingatku, beberapa waktu lalu sebelum aku tertidur, aku sempat mengirimnya pesan singkat menggunakan ponsel lelaki itu. Apa dia tidak membalasnya? Berbagai spekulasi timbul dalam benakku. Hatiku berbisik,aku tidak boleh terus seperti ini, aku harus langsung menanyakannya kepada lelaki itu.

          "Seingat aku tadi sebelum ketiduran di bus, aku pinjam ponsel abang buat ngabari pacarku ya?"


          "Iya Vit, tadi dia juga sempat nelfon. Aku bilang kamu sedang tidur, aku mau bangunin kamu katanya biarin aja dulu kamu istirahat nanti kalau udah tiba dia suru kamu ngabarin. Maaf kalau aku lupa bilang sama kamu sampai kamu harus nanya dulu ke aku gini"

          "Iya gak apa-apa kok bang, makasih ya uda ngasih tau aku soal ini. Maaf juga udah ngerepotin abang dari awal kita ketemu di terminal bus"

          "Iya sama-sama Vita, aku gak pernah ngerasa direpotin sama kamu. Aku seneng kok bisa bantuin kamu"

          "Yasudah aku mau cek ponselku dulu di tas bawaan ini ya bang, kayanya aku taruh ponselku disini deh"

          "Apa kamu nggak makan dulu aja? Nanti kamu sakit perut, lagian makannya uda datang nih. Kan tadi kamu bilang kamu lapar banget, makanannya gak enak kalau udah dingin"

          "Iya juga sih bang, perutku udah demo terus nih. Yasudah yuk kita makan dulu"

          "Iya nanti aku bantuin kamu nyari ponsel kamu ya"

          "Iya bang"

          Aku dan lelaki itu menikmati santapan lezat dengan beberapa obrolan ringan menemani makan malam kami. Setelah selesai makan, seperti janjinya di awal, lelaki itu membantuku mencari ponsel di tas bawaanku itu. Setelah beberapa menit mengacak-acak isi tas itu, akhirnya aku menemukan ponselku dan lelaki itu membantuku merapikan kembali isi tasku.

          "Alhamdulillah akhirnya ketemu juga ponsel ini. Makasih banget ya bang"

          "Iya Vita, kamu terlalu banyak berterimakasih sama aku"

          "Karena abang terlalu banyak membantuku", aku menatap lelaki itu dan kami saling tertawa.

          Aku langsung mengecek ponselku, dan melihat ada sepuluh panggilan tak terjawab dan lima pesan masuk. Semuanya itu dari pacarku, Riko.


          Sayang kamu udah dimana?
    Sayang kamu udah baikan?
    Sayang aku udah pulang kerja ni, kamu lagi dimana sih? Ponsel kamu belum ketemu ya?
    Sayang tadi aku telfon ke nomer yang kamu pake buat sms aku, tadi kamu sedang tidur aku cuma gak mau ganggu istirahat kamu. Cepat kabari aku ya!! Love you:*
    Sayang kamu susah banget di hubungi, kamu dimana sih? Udah jam segini kenapa belum ngabari aku? Aku khawatir, kamu jaga diri baik-baik ya

          Setelah membaca semua isi pesan itu, aku langsung menelfon Riko. Hanya sekali sambungan, Riko langsung mengangkat telfonku.

          "Kamu kemana aja sayang? Kamu nggak kenapa-kenapa kan? Kenapa lama banget ngabarin aku?"

          "Tumben kamu segini khawatirnya sama aku. Biasanya kalau aku pergi kamu cuek aja. Maaf kalau aku buat kamu khawatir, tadi aku ketiduran di bus. Ponselku baru aja ketemu di tas, aku baru siap makan makanya ini langsung hubungi kamu. Aku baik-baik aja kok, aku sama bang Dimas disini, lelaki yang aku temui di terminal bus. Dia yang bantuin aku selama dalam perjalanan, kamu udah bicara sama dia tadi kan?"
          "Gimana aku nggak khawatir, seharian kamu sama lelaki yang baru kamu kenal sementara aku sedang sibuk. Maafin aku karena gak bisa nemenin kamu sampe harus ada lelaki di luar sana yang menggantikan posisiku. Aku terlalu sibuk sama pekerjaanku sampe sering ngabaikan kamu. Aku janji nanti kalau kamu pulang aku akan luangkan waktuku seharian buat kita berdua. Kamu baik-baik ya disana, jaga kesehatan kamu"

          "Iya sayang, aku juga minta maaf kalau selama ini punya dunia sendiri karena kamu sibuk banget. Mungkin ini jalan yang di kasih ALLAH buat memperbaiki hubungan kita yang udah mulai renggang karena komunikasi yang kurang baik. Kepergianku ini buat kita supaya bisa saling instropeksi agar hubungan kita lebih baik dan lebih kuat. Aku dapat pelajaran berharga selama dalam perjalanan. Bang Dimas orang yang baik, aku baik-baik aja disini. Dia juga mengajarkanku pelajaran baru. Aku pegang janji kamu ya, minggu depan aku sudah pulang. Aku sayang banget sama kamu, Riko"

          "Iya sayang, sepertinya baru seharian kamu dalam perjalanan ada hal baik yang merubahmu. Iya aku sadar sekarang, kalau kamu berarti banget buat aku. Aku percaya sama kamu, iya sayang aku pasti tepatin janjiku. Aku juga sayang banget sama kamu,Vita"

          "Iya sayang, yasudah aku mau kerumah saudara dulu ya. Takutnya nanti malam banget. Aku mau cerita banyak hal sama kamu tentang perjalananku hari ini. Nanti kalau udah dirumah saudaraku, aku kabari lagi ya"

          "Yasudah sayang, aku tunggu kabar kamu ya. Kamu hati-hati. Love you mmuahh"

          "Iya sayang,love you too", aku sudah memutuskan panggilan itu.

          Aku langsung menemui lelaki itu. Sepertinya cukup lama aku meninggalkannya di dalam warung. Aku masuk lagi ke warung itu dan melihatnya masih menikmati segelas kopi dan musik dengan earphone di telinganya. Aku langsung menghampirinya.

          "Bang Dimas", aku menepuk punggungnya.

          "Eh iya Vit, udah selesai telfonannya?", lelaki itu melepaskan earphone dari telinganya.

          "Udah bang, maaf ya udah nunggu lama"

          "Iya gak apa-apa kok Vit, yaudah yuk kita pergi. Kamu mau nginap dimana?"

          "Aku mau kerumah saudara bang, abang kemana?"

          "Aku nginap dirumah temenku Vit. Yaudah yuk aku antarin kamu. Gak baik anak gadis pergi sendirian sudah malam begini"

          "Iya bang, aku ngerasa punya bodyguard sekarang, hehehe"

          Lelaki itu tertawa mendengar ucapanku,"Kamu bisa aja Vit. Yaudah yuk"

          Aku dan lelaki itu meninggalkan warung dan pergi ke rumah saudaraku. Selama perjalanan, seperti biasanya lelaki itu selalu mempunyai obrolan yang menyenangkan untuk membuatku tertawa. Kami membicarakan banyak hal dan tidak terasa aku sudah tiba dirumah saudaraku.

          "Akhirnya sampai juga, aku sudah lelah seharian dalam perjalanan. Makasih ya bang sudah mengantarkanku hingga kesini. Aku gak tau gimana balas kebaikan abang yang sudah sejauh ini"

          "Iya Vita. Yaudah kamu istirahat gih, kamu gak perlu mikirin cara ngebalas kebaikan aku. Kalau ALLAH mengizinkan, kita akan ketemu lagi. Kamu bilang mau ke sabang kan? Kita akan ketemu lagi disana seizin ALLAH. Yaudah masuk sana, langsung istirahat ya jangan tidur terlalu malam. Kamu sudah kecapek-an. Aku pulang ya, sampai ketemu di lain waktu", lelaki itu meninggalkan rumah saudaraku. Aku langsung masuk ke dalam rumah.

          Sejak malam itu, aku tak pernah lagi bertemu lelaki itu. Kami tak pernah bertukar nomer ponsel. Bahkan ketika aku tiba di Sabang pun aku tak bertemu dengannya. Aku teringat tentang apa yang pernah dikatakan oleh bapak tua di terminal bus beberapa waktu lalu, bersyukurlah atas nikmat dan cobaan yang ALLAH berikan untuk kita karena itu tanda kasih sayangNya kepada kita agar kita bisa mengambil pelajaran sehingga lebih kuat menghadapi bagaimanapun keadaan di masa yang akan datang. Hari ini aku mengerti, bahwa aku harus besyukur karena sudah memiliki Riko. Aku hanya perlu membina agar hubungan kami lebih baik. Sementara bang Dimas, adalah cobaan yang memberikanku pelajaran untuk menghargai apa yang sudah kumiliki dan setia kepadanya. Teruslah belajar dan memaknai apapun pelajaran dalam hidup agar kita mampu menghargai waktu dan setiap hal yang mengisi hidup kita.








       


    

Rabu, 18 Februari 2015

Terminal Bus

          Tiba-tiba saja kepalaku sakit. Seperti ada beban berat yang menimpanya. Pikiranku melayang, ntah apa saja yang melintas di kepalaku. Rasanya aku ingin berbaring. Tapi untuk bangun dari tempat duduk ini saja kaki ku tak kuat lagi. Aku merogoh tas selempang yang ada di tanganku. Dengan cepat ku acak acak isi tas itu untuk mencari ponsel genggam. Kenapa aku tidak menemukannya? Kemana ponsel genggam itu? Aku terus menggumam.

          Aku bingung, tiba-tiba saja di hadapanku lewat seorang lelaki yang kelihatannya sedang menunggu keberangkatan. Aku memberanikan diri untuk menyapanya.

          "Maaf bang, boleh saya minta tolong?"
          "Iya kak, tolong apa yaa?"
          "Saya boleh pinjam ponsel genggam nya? Punya saya gak ada di tas ini, saya lupa naruh nya dimana tadi karna terburu-buru"
          "Iya kak, silahkan pakai saja", lelaki itu mengulurkan tangan sambil memberikan ponsel genggam itu padaku. Aku langsung mengambilnya dan dengan segera menekan nomer pacarku. Panggilannya sudah tersambung. Tapi kenapa dia tidak mengangkat telfon dariku? Aku mengulanginya lagi dan terdengar suara di ujung sana.
          "Hallo maaf dengan siapa ini?"
          "Ini aku sayang, kamu lagi di mana?"
          "Ohh Vita, aku lagi di kantor. Ini nomer baru kamu sayang?
          "Nggak sayang, aku lupa naruh ponselku dimana soalnya tadi buru-buru. Aku pinjam ponsel seseorang yang aku temui di terminal ini".
          "Yaampun kamu ceroboh banget sih, ini kamu uda berangkat?"
            "Yaa gimana, aku pusing banget sayang. Belum, ini masih nunggu bus nya sekitar 10menitan lagi deh datangnya"
          "Kamu uda minum obat? Makanya kamu jangan kecapek-an terus kan jadinya sakit gitu"
          "Iya sayang, lagi sakit gini malah di ceramahin kamu deh. Belum sayang, ini aku gak tau beli obat nya dimana di terminal gini"
          "Yauda coba kamu tanya di warung-warung gitu obat pusing, kali aja ada"
          "Iya sayang, ini aku mau nyari dulu"
          "Yauda kamu cepat sembuh yaa sayang, ntar istirahat aja di bus. Aku ada meeting lagi ni, bye sayang hati-hati yaa, jaga kesehatan kamu. Mmmuahh
          "Iya sayang, makasih ya", tanpa jawaban apapun lagi dari ujung sana telfon nya sudah terputus. Raka sudah lebih dulu mematikannya.

          Badanku lemas sekali, aku memberikan ponsel genggam itu pada lelaki tadi.

          "Makasih ya bang ponselnya, maaf kalau saya memakai pulsanya terlalu banyak"
          "Iya gapapa kak, maaf namanya siapa ya? Kelihatannya kakak kurang sehat, biar saya belikan obat ya"
          "Panggil saja Vita, jangan kakak. Abang namanya siapa ? Maaf kalau lagi-lagi saya merepotkan abang. Saya lagi pusing banget, rasanya buat bangun dari kursi ini aja berat"
          "Hehe iya Vita. Panggil saja bang Dimas. Saya nggak merasa direpotkan kok. Yasudah sebentar yaa saya belikan di warung itu dulu"
          "Iya bang. Terimakasih ya sebelumnya, saya jadi gak enak sama abang"
          "Gapapa lagi, santai aja"

          Lelaki itu meninggalkanku dan tak lama ia kembali dengan kantong plastik yang berisi makanan,minuman, dan obat untukku.

          "Nih, kamu makan rotinya dulu terus langsung minum obatnya. Itu bus nya uda datang"
          "Iya bang, sekali lagi makasih ya abang uda perhatian banget sama aku"
          "Iya Vita, kamu tujuan ke Banda Aceh juga?"
          "Iya ni, sama dong kita yaa"
          "Iya Vita, kamu kursi nomer berapa?"
          "Aku nomer 9 bang, abang sendiri?"
          "Lohh aku nomer 10, kenapa bisa kebetulan bareng gini kita yaa"
          "Hehe iya bang, kok bisa yaa. Aku juga gak nyangka kita bakal duduk bareng selama perjalanan nanti. Setidaknya aku jadi ada temen ngobrol"
          "Iya jadi gak garing gitu perjalanannya ya. Yaudah naik yuk itu bus nya udah mau jalan. Kamu uda selesai minum obatnya kan?"
          "Iya, udah kok bang. Yauda yuk kita naik"
          "Sini aku bantuin, kamu kan masih lemes banget", ia memapahku hingga ke dalam bus. Kami duduk berdampingan.

          Bus sudah berjalan maju, penumpangnya tidak terlalu penuh. Masih ada beberapa kursi kosong yang belum terisi. Aku sangat menikmati perjalanan ini. Lelaki itu orang yang menyenangkan.

          "Gimana sakitnya ta? Kamu masih ngerasa pusing?"
          "Alhamdulillah sih udah mendingan bang. Cuma masih sedikit lemas aja"
          "Yaudah kamu istirahat dulu aja, sini sandaran di bahuku"
         "Kan aku jadi ngerepotin abang lagi. Baru juga ketemu udah nyusahin banget ya bang"
          "Nggak kok ta, aku ikhlas ngelakuinnya. Kamu kan lagi kurang sehat, gak mungkin aku biarin kamu gitu aja"

          "Makasih ya bang, kalo aja pacarku seperhatian abang"
          "Emang pacar kamu gak perhatian ya?"
          "Dia cuek banget, walaupun sering romantis juga. Tapi dia sibuk banget sama kerjaannya. Sampe aku mau liburan aja harus pergi sendiri gini"
          "Ohh kamu ke Banda ini dalam rangka liburan ta? Sama dong, aku juga mau liburan kesana. Niatnya sih mau ke sabang juga"
          "Iya bang, loh kok bisa barengan gini lagi ya. Aku juga mau sekalian ke sabang. Disana ada saudara yang udah nungguin kedatanganku"
          "Gimana kalau kita barengan aja ke sabangnya? Kayanya lebih seru kalau ada temen"
          "Iya boleh ajasih. Abang disana sendirian?"
          "Iya, tadinya aku mau menenangkan diri dan mencari suasana baru untuk menyenangkan hatiku. Tapi semenjak ketemu kamu di terminal tadi, aku sudah sedikit merasa tenang"
          "Abang lagi ada masalah? Alhamdulillah kalau abang sudah sedikit merasa tenang"
          "Aku di khianati oleh perempuan yang sudah 3tahun ini ku cintai. Aku melihatnya sedang bermesraan dengan lelaki lain. Aku gak tau alasannya apa, karena aku tak pernah mau tau lagi. Dia bilang kepadaku kalau dia lebih memilih lelaki itu dan aku diminta untuk melupakannya. Maaf aku jadi curhat gini sama kamu"
          "Iya gapapa kok bg, kalo abang mau cerita silahkan aja, aku siap kok dengerinnya"
         "Makasih ya vita"

          Aku dan lelaki ini mulai cerita banyak hal tentang kehidupan masing-masing. Mulai dari kuliahku, pekerjaannya, hoby, cita-cita, rencana kedepannya, keluarga, masa lalu, bahkan sampai ke hal politik. Tawa saling bersambutan di sela-sela percakapan itu. Aku tak menyangka bakal punya pembicaraan yang sangat menarik dengan lelaki ini. Beberapa jam kami habiskan dengan obrolan penuh makna yang membuat kami saling mengenal sejak hari ini, di bus ini.

          Di luar hujan, pendingin ruangan di dalam bus membuatku semakin kedinginan. Aku memangku kedua tanganku di depan dada. Aku berusaha menghangatkan diriku sendiri dengan mengusap-usap kedua telapak tanganku. Tiba-tiba saja ada baju tebal yang menimpa tubuhku. Aku merasa sedikit hangat dengan baju ini.

          "Pakai ini aja, setidaknya kamu gak terlalu kedinginan"
          "Iya bang, makasih lagi yaa. Aku uda ngerasa lebih hangat kok sekarang"

          Tiba-tiba saja dia meraih bahuku dan merangkulku di bahunya. Aku kaget. Kenapa lelaki ini begitu perhatian padaku. Belum seharian aku bersamanya, sudah berkali-kali aku kagum dibuatnya. Kali ini aku merasa jauh lebih hangat dalam dekapannya. Aku merasa begitu nyaman, ntah hanya sekedar kagum atas sikapnya atau memang dia telah membuatku berkhianat pada cintaku dengan jatuh cinta padanya.

          "Pacar kamu uda hubungi kamu?", suara lelaki itu membuyarkan lamunanku.
          "Ng..ng.. belum nih bang. Mungkin dia masih sibuk"
          "Coba kamu hubungi dia duluan. Menelfon atau sekedar ngirim pesan singkat. Mungkin dia sedang mengkhawatirkanmu"
          "Ngga lah, dia terlalu sibuk dengan dunianya hingga sering mengabaikan aku"
          "Coba hubungi saja dulu, mungkin kamu salah paham"
          "Abang kenapa belain Raka terus, sih?"
          "Aku nggak belain siapa-siapa. Aku cuma bicara sesuai keadaan. Sudah beberapa jam kamu dalam perjalanan tapi tak memberi kabar apapun padanya. Bukannya terakhir kali kalian telfonan kamu mengeluh sakit padanya? Mungkin saja dia sedang memikirkan keadaanmu. Itu saja, Vita"

          Aku memikirkan omongan yang baru saja di lontarkan lelaki itu, sepertinya dia benar. Aku gak boleh egois, aku juga harus mengingat pacarku.

          "Baiklah bang. Aku akan menghubunginya", aku merogoh tas selempangku. Dan, aku tiba-tiba saja ingat. Bukankah ponselku hilang? Terakhir kali menelfon aku meminjam ponsel lelaki itu. Aku memberanikan diri lagi untuk meminjam ponsel kedua kalinya.
          "Maaf bang, boleh gak kalau aku pinjam ponsel bang Dimas lagi? Ponselku kayanya beneran hilang deh"
          "Tentu,pakailah", aku mengambil ponsel itu dengan sedikit rasa malu.
     
          Sejak pertama bertemu lelaki itu hingga detik ini, aku masih saja merepotkannya. Sejenak aku berfikir, lain kali aku harus membalas kebaikannya. Pikiranku dengan cepat berganti kepada pacarku, aku langsung menekan nomer ponselnya. Menunggu beberapa detik panggilan tersambung, aku menunggu jawaban darinya. Menunggu suara itu menyapaku. Tak ada jawaban. Aku mengulanginya berkali-kali. Masih saja tak ada jawaban. Akhirnya aku mengirimnya pesan singkat.
          Sayang, aku udah enakan nih. Kepalaku udah gak pusing lagi. Aku baik-baik aja sekarang, ini masih dalam perjalanan nanti kalau udah tiba di Banda Aceh aku kabari lagi ya. Kamu jaga kesehatan jangan terlalu capek. Aku sayang kamu :*
Bersambung,
                         

                         
       

Selasa, 10 Februari 2015

Nona Cafe

          Aku sudah sejak tadi berada disini, dengan segelas cappucino hangat di meja hadapanku. Aku menikmati minumanku sambil memperhatikan seorang gadis di sudut sana. Iya telah berada disitu sebelum aku tiba. Sepertinya ia sedang terlalu asik dengan dunianya. Ia menggunakan earphone di telinga dan sebuah buku bacaan di tangannya. Sudah satu jam lebih aku disini, tapi tak kulihat sekalipun ia menolehkan wajahnya. Ia menikmati chocolate yang sering di pesannya itu.        

          Sudah dua bulan ini aku mengikuti gadis itu. Awalnya aku tak pernah melihatnya. Dua bulan yang lalu, tepatnya ketika hujan turun begitu deras aku memilih berteduh di cafe ini . Aku duduk sambil menikmati cappucino hangat, dan tiba-tiba pandanganku mengarah padanya. Mataku seakan tak ingin pergi darinya. Aku terus memandangnya. Keesokan harinya, aku mulai penasaran pada gadis itu. Aku datang lagi ke cafe itu dan berharap dia ada disana. Mungkin ini adalah hal yang bodoh. Ketika kita hanya me-reka-reka keberadaan seseorang tanpa benar-benar menanyakannya. Tapi ntah kenapa, aku merasa yakin kalau aku akan melihatnya lagi disana. Tak ambil pikir panjang lagi, aku segera mendatangi cafe itu. Dan, benar saja! Aku menemukan gadis itu lagi dengan kebiasaannya seperti kemarin. Dia masih dengan earphone, segelas chocolate, dan buku bacaan di tangannya.        
         
          Sejak dua bulan ini aku terus bertanya-tanya dalam hati. Siapakah gadis ini? Kenapa dia selalu mengunjungi cafe ini sendirian? Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Aku ingin masuk ke dunia yang terlalu dinikmatinya. Ia seolah tak pernah perduli pada sekitarnya. Mungkin dunia nya terlalu menarik tanpa perlu mengetahui apa yang terjadi di sekelilingnya. Ingin sekali aku menyapanya. Tapi seakan tak punya keberanian, akhirnya aku mengurungkan kembali niat itu. Aku hanya mampu menatapnya dari jauh. Melihat rambutnya yang selalu tergerai indah, hidungnya yang tidak terlalu mancung namun membuat hidungku seakan ingin mendarat disana. Matanya yang tak kuketahui bagaimana bentuk aslinya, karena selama ini selalu tertutup kaca mata besar yang di pakainya. Tubuhnya yang ramping dan tinggi yang sesuai membuatnya terlihat lebih menarik. Di tambah lagi kulit putihnya yang begitu lembut memancarkan aura kelembutan dalam dirinya.

          Sore itu, aku sudah terlalu penasaran. Tapi, aku masih saja belum punya keberanian untuk langsung menyapanya. Aku mencoba bertanya pada salah satu pelayan di cafe itu.                  
          "Kak,kak tolong kesini sebentar"
          "Iya bang, ada yang bisa saya bantu?"
          "Saya cuma mau nanya nih. Gadis yang di sana itu memang sering banget kesini ya?",aku mengarahkan telunjukku ke arah gadis itu.
          "Ohh kak Cika. Iya dia memang sering banget kesini bang. Dia pelanggan setia cafe ini sejak setahun yang lalu. Dulu sih, dia selalu bareng pacarnya kesini. Mereka pasangan yang kompak banget, aku seneng banget kalau uda liat mereka ketawa-ketawa bareng. Tapi semenjak bang Riko kecelakaan dua bulan yang lalu, kak Cika jadi pendiem gitu. Dia gak pernah ketawa lagi bahkan cuma untuk senyum aja susah banget. Dia hanya asik dengan musik dan bacaannya", pelayan itu menceritakan tentang gadis itu, sepertinya dia tau banyak hal.
          "Wah, kamu tau banyak tentang dia ya. Ohh jadi namanya Cika".
          "Kak Cika itu orangnya ramah dan baik banget bang. Dia uda nganggap cafe ini kaya rumahnya dan pelayan disini kaya keluarganya. Dia gak pernah sombong sama kita. Kalau pelanggan lagi sepi, saya sering di ajak ngobrol sama kak Cika. Makanya, saya tau banyak tentang dia. Tapi, semenjak kepergian bang Riko saya sering sedih melihat kak Cika yang uda gak seperti dulu lagi", pelayan itu terus bercerita dan dia mulai terlihat sedih dengan ceritanya.
          "Emang pacarnya meninggal kenapa? Dia sayang banget ya sama pacarnya", aku mulai tertarik dengan cerita pelayan ini.
          "Setau saya, bang Riko meninggal dalam kecelakaan motor seminggu sebelum pertunangan mereka. Mereka uda pacaran tiga tahun dan tentu kak Cika sayang banget sama bang Riko. Mereka sudah berencana nikah tahun depan. Tapi takdir berkata lain, dan kak Cika harus kehilangan bang Riko setragis itu", tanpa sadar air mata pelayan ini sudah membanjiri pipinya.
          "Maaf kak, saya membuat kamu sedih karena menanyakan tentangnya", aku memberikan tissue untuk pelayan itu.
          "Gapapa kok bang. Saya hanya terharu kalau ingat kisah kak Cika apalagi lihat dia yang uda kehilangan keceriaannya. Abang suka sama kak Cika yaa? Saya perhatikan abang juga sering kesini", pelayan ini mulai menyadari keberadaanku.
          "Saya turut sedih mendengar cerita tentangnya. Saya pikir selama ini ia adalah gadis yang sombong dan gak perduli sama lingkungannya. Ternyata saya keliru. Sudah dua bulan ini saya memperhatikan dia, saya mulai tertarik padanya. Hanya saja saya gak punya keberanian untuk menyapa dan berbicara padanya".
          "Sepertinya dua bulan adalah waktu yang cukup untuk sekedar menyapa. Mungkin dengan kehadiran abang, kak Cika bisa mengembalikan senyum dan keceriaannya", pelayan itu memberikan saran yang patut untuk aku pertimbangkan          "Sepertinya benar katamu, saya akan mencobanya", aku berusaha meyakinkan diriku.          "Maaf bang, saya sudah terlalu lama disini. Ada pelanggan yang datang, saya harus melayani mereka", ia tersadar bahwa telah cukup lama mengabaikan pekerjaannya.
          "Baiklah, maaf saya telah mengganggu waktumu. Dan terimakasih untuk saran dan cerita darimu. Selamat bekerja kembali".          "Iya sama-sama bang, lain kali kembalilah kesini", ia meninggalkan mejaku dan kembali melakukan pekerjaannya.

          Aku mulai memikirkan apa yang di katakan pelayan tadi. Kali ini aku harus berani. Yaa, aku harus memberanikan diriku untuk mengenalnya. Seminggu setelah pembicaraanku dengan pelayan di cafe itu. Aku mendatangi cafe itu lagi. Kali ini aku tidak akan membuang-buang waktu.

          Aku masuk ke cafe itu. Dan, sepertinya ada yang berbeda. Kemana gadis itu? Kenapa dia tidak kelihatan? Bukankah dia selalu kesini pukul 4 sore? Aku melirik jam tanganku untuk memastikan aku tidak datang lebih awal. Benar saja, ini sudah pukul 4 lewat 20 menit. Berbagai pertanyaan mulai menghiasi kepalaku. Mereka terus berputar-putar hingga membuatku pusing. Aku duduk sejenak. Pandanganku sedikit buram. Aku berusaha menenangkan pikiranku.
          "Maaf bang, mau pesan apa yaa?", suara itu mengagetkanku.
          "Eh,iya kak. Cappucino seperti biasa ya. Ohhiya, saya tidak melihat Cika hari ini. Kemana ya dia?".
          "Iya bang. Kak Cika udah berangkat ke luar negeri dua hari yang lalu. Dia bilang pada saya dia ingin menjalani kehidupan baru. Terlalu banyak kenangan disini dan dia ingin menyembuhkan lukanya. Ia merasa sangat kehilangan. Kalau dia terus berada disini ia tak akan pernah keluar dari dunia yang menjeratnya tenggelam dalam kenangan", kalimat-kalimat itu membuatku sesak. Kenapa harus secepat itu? Aku baru saja merasa yakin dengan tindakan yang akan aku ambil.
          "Luar negeri? Baru saja saya ingin mengenalnya lebih dekat, dia sudah pergi jauh meninggalkan tempat ini. Apakah dia bilang kalau dia akan kembali?".
          "Tidak bang. Dia belum bisa memastikan apakah akan kembali lagi atau tidak ke Indonesia".
          "Baiklah. Terimakasih atas informasinya".
          "Iya samasama bang", pelayan itu meninggalkan mejaku.

           Aku menatap kursi di sudut sana. Hatiku perih seakan sesak. Aku seperti kehilangan sesuatu yang tak pernah kumiliki. Hatiku seolah ikut bersamanya. Tak ada lagi sosok gadis berkaca mata dengan rambut tergerai indah dan earphone serta buku bacaan di tangannya yang selalu ku tatap di cafe ini.

          Aku hanya menatap langit. Cafe ini menjadi saksi. Berharap suatu saat nanti ia akan kembali dan kami bertemu di tempat ini lagi dengan aku yang sudah bisa mengungkapkan apa yang selama ini telah terpendam. Aku ingin mengenal dunianya lebih dekat. Dia memang tak pernah mengetahui sosokku yang diam-diam telah tercuri hati karenanya. Biarlah rasa ini tersimpan sampai waktu yang akan memberikan jawaban.

Minggu, 08 Februari 2015

Aku dan Kotaku


          Ini adalah waktu liburan dan lebih tepatnya libur panjang. Aku tak pergi berlibur ke luar kota. Kali ini sepertinya memang tak ada liburan. Hari-hariku hanya di habiskan di rumah dan sesekali keluar untuk keperluan atau sekedar mencari angin segar. Liburan kali ini memang tak terlalu menyenangkan. Tapi ada beberapa hal yang setidaknya membuatku tak kesepian. Aku punya banyak waktu dirumah bersama keluarga dan di akhir pekan kami menyempatkan untuk jalan-jalan menikmati panorama dan pesona di kota kecilku ini.

          Kota ini punya terlalu banyak cerita. Mulai dari aku lahir, masa kecilku,remajaku, hingga aku mulai beranjak dewasa semua ku habiskan di kota ini. Aku lahir dari keluarga sederhana dengan orang tua hebat yang begitu peduli dan menyayangi anaknya.

          Aku anak ketiga dari empat bersaudara. Sejak kecil ayahku sering mengajak kami menghabiskan akhir pekan bersama keluarga. Dan kebiasaan itu masih terlaksana hingga saat ini dan seterusnya. Keluarga punya peranan dan arti penting buatku. Tanpa mereka aku tak pernah mengerti apa arti hidup. Tak pernah tau bagaimana bersikap dan berinteraksi yang baik dengan orang lain. Keluarga mengajarkan begitu banyak pelajaran penting dalam hidup. Terutama orangtua. Mereka tak pernah lelah menasehati dan memberi solusi untuk urusanku. Aku sangat bersyukur di lahirkan dari keluarga ini. Dari seorang ibu yang mampu mengerti anaknya dan memahami setiap keluhannya tanpa pernah berfikir untuk mengabaikannya sedikitpun. Dan dari seorang ayah yang bertanggung jawab dan tak pernah lelah berjuang untuk keluarganya. Ayah adalah sosok lelaki terhebat dan terkuat yang pernah kumiliki. Aku belajar banyak darinya.

          Di kota ini telah tercipta banyak kenangan. Kota kecil dengan sejuta impian di dalamnya. Tidak ada yang terlalu mewah di kota ini. Hanya terdapat beberapa bangunan yang tidak terlalu tinggi seperti di ibukota. Penduduk yang masih identik dengan ragam budaya dan adat istiadatnya. Terdapat berbagai suku di kota ku ini. Namun semua bisa beriringan tanpa ada perselisihan.

          Disini tidak ada mall atau tempat hiburan malam seperti diskotik. Hanya sekedar tempat karokean, kafe, resto, yang dipenuhi para muda-mudi yang merasa penat dengan kesehariannya, serta warung kopi untuk para lelaki paruh baya dan terkadang para remaja bahkan wanita juga ikut menghabiskan waktunya untuk menyeduh segelas kopi dan menonton siaran pertandingan sepak bola atau sekedar saling berbagi cerita. Terkadang, ada juga hiburan pasar malam yang menyediakan berbagai produk sandang dan pangan. Atau sekedar menikmati bandrek di pinggir lapangan dan melihat orang-orang menaiki becak hias.
          Ketika aku masih berumur 10-15 sering di adakan konser para band ibukota disini. Seperti Ungu,Sheila On 7, Seventeen, Armada, dan beberapa lainnya yang tak begitu kuingat namanya. Itu menjadi salah satu hiburan masyarakat, namun saat ini tak pernah lagi diadakan. Ada tempat lain yang sejak dulu juga menjadi tujuan masyarakat untuk mengunjunginya. Kuala Langsa. Ini adalah salah satu tempat favorit aku dan keluarga sejak kecil. Disini terdapat wisata alam seperti hutan bakau dan laut lepas. Kita juga bisa menemukan banyak ikan segar di sini. Beberapa penduduk Kuala ini menjual hasil pencahariannya disini.

          Hutan bakau menjadi destinasi tempat paling banyak di kunjungi saat ini. Kita bisa berjalan sepanjang kurang lebih satu kilometer di sebuah jembatan sambil menikmati pemandangan hutan bakau di sekelilingnya dan sebuah menara agar bisa melihat keseluruhannya. Ini juga salah satu tempat yang memiliki spot bagus untuk photography. Kita juga bisa menikmati jagung bakar dan mie kepiting di Kuala Langsa ini sambil menikmati panorama laut dan udara yang cukup menenangkan. Kita bisa melihat boat para nelayan atau kapal besar di laut itu. Pemandangan yang cukup indah bagi penikmatnya.

          Sepertinya aku lupa satu hal. Ada satu tempat yang sering juga sering aku kunjungi bersama keluarga sewaktu kecil. Bambu Runcing! Yaa, sebuah taman di pinggir kota yang dulunya cukup terawat seperti adanya kolam air pancur, taman yang indah, beberapa ayunan, ukiran dinding, dan tentunya bambu runcing yang berdiri kokoh di tengahnya. Bahkan ketika aku kecil, ada seorang photographer yang menyediakan jasa nya untuk mengabadikan momen bersama teman atau keluarga. Kita juga bisa menyantap kuliner dan jajanan di pinggir kota. Itu sungguh sangat menarik dan menyenangkan. Kelihatannya pemerintah kota sedang memperbaiki kembali keadaan taman kota tersebut agar terasa hidup kembali. Semoga saja tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk menyelesaikannya.

          Tak terasa waktu liburanku telah habis. Aku sudah harus kembali dengan rutinitas seperti biasa dengan segala kesibukan di dalamnya. Aku harus lebih semangat kali ini, untuk impian besar yang harus ku gapai di depan sana. Tak boleh lagi menyiakan waktu tanpa usaha meski sekecil apapun. Tetaplah bermimpi walau kau berfikir itu tak akan mungkin. Karna tak ada usaha yang sia-sia dan hasil yang besar di mulai dari langkah yang kecil. Teruslah bersemangat mengejar impianmu!



*bandrek : minuman air jahe dan beberapa rempah lainnya yang menghangatkan tubuh
*destinasi : tujuan
*spot : tempat
*photography : pemotretan
*photografer : juru potret



Selasa, 03 Februari 2015

Terlalu Indah

            Tubuhku terasa dingin meski dalam balutan selimut yang cukup tebal. Di luar tidak hujan, atau hanya basah karena sisa-sisa hujan.Tapi, ntah kenapa malam ini terasa begitu dingin.
         Aku ditemani boneka beruang putih yang memiliki tulisan 'Bernard Bear' di perut nya. Aku terus memeluk nya dalam dekapanku, serasa tak ingin lepas. Kali ini berbeda, seperti ada sesuatu yang mengusik hati dan pikiranku. 'Bernard' , nama itu mengingatkanku pada sosok seorang lelaki gendut, putih, lucu, dan sangat menyenangkan.
        Aku menatap langit-langit kamar. Seolah jiwaku ditarik kedunia itu, dunia yang pernah ku jelajahi sebelumnya. Sosok lelaki itu masih begitu jelas dalam ingatanku. Lelaki yang awalnya hanya seorang teman dekat yang sudah kuanggap sebagai sahabat. Terlalu banyak kisah yang terlewati, terlalu banyak canda tawa yang tercipta, bahkan terselip tangis dan duka di dalamnya. Hingga rasa tak mampu menahan hadirnya.
            Aku tak pernah menyangka apalagi menduga bahwa ia menyimpan begitu besar rasa untukku. Aku hanya tau bahwa ia adalah teman paling menyenangkan dan selalu bisa membuatku tertawa dan apa adanya. Ia tau banyak hal tentangku, begitupun aku. Bahkan ia tau kepada siapa aku menyimpan rasa.
        Kami sering menghabiskan waktu bersama, bercerita banyak hal, lalu kembali pada dunia sendiri-sendiri. Dua tahun kebersamaan itu kujalani tanpa pernah merasakan apa yang dirasakan olehnya, bahkan hanya sekedar tau tentang perasaannya.
      Waktu terus berdetak pada masanya. Hingga waktu juga yang menciptakan jarak dalam kebersamaan itu. Tapi jarak telah mendatangkan keberaniannya untuk mengungkapkan rasa yang sudah terlalu lama di rasakannya.
           Aku masih tak percaya, tapi ia terus meyakinkanku bahwa ini nyata. Ia sudah bertahan dalam diam sekian lama hingga tiba masa untuknya berani mengungkap rasa. Terlalu banyak pertanyaan yang melintas di pikiranku,  tapi mulutku tak mampu mengucap banyak. Aku hanya diam dan terus memikirkannya.

Aku uda suka dan sayang sama kamu dari dulu, waktu kita masih satu sekolahan.Dan ketika aku pindah, aku baru ngerasa kalau aku kehilangan kamu banget. Aku baru sadar kalau kamu memang penting buat aku.

         Aku membaca ulang pesan singkat yang sudah beberapa hari nginap di kotak masuk ponsel genggamku itu. Iya, dia telah pindah sekolah. Aku tak lagi satu sekolahan dengannya. Hari-hariku mulai terasa berbeda semenjak kepergiannya. Aku sering merasa sepi, tak ada lagi yang menghadirkan tawa dan senyum di bibirku. Kali ini aku merindukannya. Sangat merindukannya.
          Sejak saat itu, kami sering mengirim pesan singkat dan berbalas hingga baterai ponselku habis tanpa terasa. Ia begitu perhatian, meski kami sudah berbeda sekolah, ia masih sering menjemputku. Kami masih sering menghabiskan waktu bersama di luar jam sekolah. Aku merasa sangat nyaman ketika bersamanya. Ia selalu bisa membuatku bersikap apa adanya dan tertawa bahagia dengan segala lelucon pilihannya. Aku tak mengerti apakah ini yang disebut cinta ? Serangkaian rasa yang hadir tanpa pernah diminta dan tanpa tau kepada siapa ia akan mencinta. 
          Kami terus menjalani hari bersama, menghabiskan waktu dalam irama dan berbagai panorama. Ini sungguh hal yang sangat menyenangkan. Tapi sepertinya ia mulai butuh kepastian akan ungkapan nya beberapa waktu itu. Ia mulai menanyakan bagaimana dengan hubungan ini? Kemana hubungan ini akan berlayar ? Ia tak mungkin terus berlayar tanpa tujuan.
      "Gimana sama hubungan kita? Kita sudah sedekat ini. Kamu mau kan jadi pacarku?", ia memintaku lagi kali ini.
         "Aku tau kita uda sangat dekat, tapi aku gak mau semuanya berubah ketika kita putus nanti. Aku sudah terlalu nyaman bersamamu, aku hanya gak sanggup kalau nanti kita jadian keadaannya akan berubah", aku mencoba mengutarakan isi hatiku.
          "Aku janji kok, kalau pun nanti kita harus putus semuanya gak akan ada yang berubah. Kita masih tetap sama dan akan terus seperti ini", ia mulai meyakinkanku akan hal itu.
          "Itu katamu sekarang, bagaimana nanti? Aku yakin semua akan berubah. Kamu gak akan ada waktu lagi buat aku, kita gak akan bisa sedekat ini", aku masih tidak percaya.
          "Aku pastikan kita masih tetap seperti ini. Aku tak pernah musuhan dengan mantanku. Aku yakin semua akan baik baik saja", ia terus meyakinkanku.
          "Tapi aku sudah sangat nyaman seperti ini bersamamu, aku gak mau rasa nyaman ini hilang hanya karena kita jadian dan pada akhirnya putus".
          "Tapi aku juga butuh kepastian,Rena. Aku sudah punya cukup keberanian untuk mengatakan ini padamu, ayolah semua akan baik baik saja kalau kamu tidak berfikir sejauh itu".
          "Baiklah,Nola. Tapi aku butuh waktu untuk semua ini. Aku akan jawab ketika kita lulus Ujian Nasional nanti. Gimana ?"
          "Oke. Aku akan ikuti maunya kamu. Aku sayang sama kamu".
          Percakapan itu telah mengawali sebuah penantian panjang. Terselip harapan besar didalamnya. Harapan untuk sebuah kepastian di ujung sana. Di waktu yang masih terbilang lama. Setahun bukanlah waktu yang singkat untuk sekedar menunggu jawaban. Mungkin aku terlalu egois ketika itu. Aku terlalu mengikuti keinginanku hingga tak memerdulikan perasaannya.
      Dengan rasa yang terus tercipta, kami menjalani hari-hari seperti biasa. Dia selalu setia menemani. Selalu mengerti dan memahami segala hal tentangku. Dia paling tau cara menenangkanku ketika aku kesal, menghentikan air mataku ketika aku menangis, menghiburku ketika aku terlihat murung, dan selalu bisa menciptakan tawa di sela-sela kesedihanku. Aku tak tau apakah aku juga melakukan hal yang sama padanya. Ntahlah
          Bersamanya aku bisa menjadi diriku sendiri. Bersamanya hidupku terasa lebih berwarna. Dia juga sering memberi masukan untuk penampilanku. Mulai dari kuku yang harus rapi, potongan rambut yang menarik, dan beberapa hal lain yang menurutnya tidak sesuai. Aku suka ketika dia perduli dan memberi solusi.
          Terlalu banyak kenangan indah ketika bersamanya. Setiap kejadian masih tersimpan rapi dalam ingatanku. Bahkan hingga detik ini aku masih sering memikirkannya. Ia terlalu indah dan takkan terganti.
          Pernah satu waktu, aku memintanya menurunkan berat badan. Tubuhnya sudah terlalu besar ketika itu. Dan dia butuh olahraga.
          "Aku mau nurutin permintaan kamu Ren. Nanti siang aku lari, kamu mau ikut?"
          "Boleh, nanti aku ikutan lari. Kamu harus semangat ya"
          Aku menemaninya lari siang itu. Dia terlihat bersemangat meski sudah kelelahan.
          "Udahan aja dulu kalau kamu capek. Sini istirahat dulu"
          "Iya Rena. Eh kamu tau gak?", ia membuka tutup botol minuman dan langsung meneguknya.
          "Tau tentang apaan?", aku terlihat penasaran dengan kalimatnya.
          "Aku uda beli susu L-Men dan vitamin, lho. Supaya ngebantu nurunin berat badanku"
          "Lho beneran? Bagus dong berarti kamu semangat nurunin berat badannya"
          "Iya dong, ini kan buat kamu Ren", ia terlihat menggodaku.
          "Haha pinter kamu yaaa"
          Ia terus berjuang untuk menurunkan berat badannya, mulai dari olahraga rutin, minum susu dan vitamin, sampai diet makanan. Dia mulai tidak makan malam dan nengurangi porsi makannya. Ia terlihat sungguh-sungguh dengan usahanya.
          Melihat usahanya, aku mengajukan permintaan bodoh lainnya. Aku memintanya untuk tidak menghubungiku selama sebulan. Kami tidak boleh berkomunikasi dalam waktu yang sudah aku tentukan. Awalnya ia menolak, perjanjian bodoh macam apa ini. Tapi akhirnya ia mengikuti keinginanku. Ini memang hal terbodoh yang pernah aku lakukan, meski kami tetap bertemu tapi jelas saja ini membuatku khawatir akan kabarnya begitupun dia. Ntah apa yang ada di pikiranku saat itu ketika aku meminta hal bodoh ini.
       Sebulan berlalu, kami mulai sering mengirim pesan singkat lagi. Aku sering tertawa dan tersenyum malu hanya karena membaca tulisan di layar ponselku. Dia selalu menyempatkan waktunya untukku sesibuk apapun dirinya. Dia tak pernah menolak ajakan ku ketika aku memintanya menemaniku.
          Siang itu, ketika pulang sekolah aku diantar olehnya. Rumah terkunci dan aku pergi kerumah bundaku tanpa sepengetahuannya. Aku tak membawa ponselku. Tak ada yang tau kabarku. Hingga sore hari, aku belum tiba di rumah. Orang tuaku jelas mengkhawatirkan anaknya. Ayah menelpon temanku dan bertanya dengan siapa aku pulang sekolah tadi siang. Temanku menyebut nama Nola dan ayah meminta nomer ponselnya dengan segera menghubunginya. Nola sangat ketakutan, apakah aku benar hilang? Ponselku tidak bisa di hubungi dan itu sangat mengkhawatirkan mereka ..
                  Rena dimana?
        Dimana ren?
        Kamu baik-baik aja kan?
       Pesan singkat itu terus bermunculan di layar ponselku. Dia kesal karena aku tidak mengabari siapapun. Dia ketakutan karena pulang sekolah tadi aku bersamanya. Aku coba menenangkannya meski aku masih terlihat cekikikan mendengar ceritanya. Itu kali pertama aku melihatnya sekhawatir itu. Tapi aku berjanji takkan mengulanginya lagi.

         Waktu Ujian Nasional hanya beberapa bulan lagi. Kami semakin dekat dan begitu akrab. Semua terjadi tanpa terasa, waktu berdetak seolah melaju pada kecepatan tinggi. Aku terlalu menikmati saat-saat bersamanya hingga lupa pada janji yang telah terucap kala iya mengucap rasa dan meminta jawaban atas segalanya.
         Hingga Ujian Nasional selesai dan perayaan hari perpisahan terlaksanakan, kami masih berjalan tanpa ikatan. Bergandengan tangan sambil berjalan berdampingan tanpa tau apakah akan sampai kepada satu tujuan. Aku masih sangat menikmati waktu bersamanya, kami saling menyayangi meski aku masih bertahan tanpa ikatan, tanpa status yang hanya akan menjadikan semuanya berbeda.
        Setelah menghadiri acara perpisahan murid kelas IX di sekolahnya, kami menyempatkan keliling kota sebelum malamnya ia berangkat bersama rombongan sekolahnya untuk rekreasi.
          "Ntar malam aku berangkat ke Berastagi, kamu mau aku belikan apa disana?"
          "Apa yang kamu suka aja, kamu gak lama kan disana? Aku pasti bakalan rindu"
          "Ia tenang aja, aku pasti cepat pulang dan ketemu kamu lagi"
          Beberapa hari tanpa hadirnya terasa sepi, hingga waktu mempertemukan dua remaja yang sudah saling merindu. Sore itu dia menghubungiku, memberitahu bahwa dia sudah pulang dan ingin mengajakku jalan. Aku tak menolaknya karena tau betapa rindu hatiku beberapa hari ini.

          "Kapan kamu pulang?"
          "Tadi pagi Ren, aku uda gasabar ingin ketemu kamu makanya sore ini langsung ajak kamu jalan"
          "Kamu bisa aja, rinduku juga sama sepertimu"
          "Eh iya, aku belikan kamu sesuatu. Aku yakin kamu pasti suka deh", ia mengeluarkan sesuatu dari bagasi motornya.
          "Apa itu? Wahhh cantik banget, bentuknya hati gitu, aku sukaa", mataku mengarah pada sebuah kalung ukiran kayu yang berbentuk hati dengan tali sederhana di tangannya.
          "Alhamdulillah kamu suka, aku seneng. Kamu mau pakai sekarang?"
          "Boleh, terimakasih ya Nola"
          "Iya Rena, kamu terlihat cantik. Dijaga baik-baik ya Ren"
          "Iya Nola, aku pasti bakal terus jagain kalung ini dengan baik. Aku janji"
          Seperti janjiku padanya, hingga detik ini kalung itu masih tersimpan rapi dan sesekali aku masih suka memakainya.
          Ketika aku berekreasi bersama rombongan sekolah ke Prapat, aku juga tak lupa membelikan sesuatu untuknya. Setelah berjalan keliling-keliling melihat berbagai buah tangan hasil kerajinan tangan, miniatur gitar kayu menyita pandanganku. Aku langsung mengingat Nola. Dia suka nyanyi dan pandai bermain gitar, aku rasa ini cocok untuknya. Aku membelinya dan memberikan kepada Nola pada suatu malam ketika aku memintanya menemaniku ke acara temanku. Kunci motorku hilang dan aku sangat panik, syukur dia bisa mengantarkanku malam itu.
            Seperti yang ku katakan sebelum-sebelumnya, aku merasa sangat nyaman bersamanya hingga tak pernah memikirkan tentang status. Yang ada dalam pikiranku, kami akan terus seperti ini tanpa perlu status yang ketika semuanya berakhir, kami takkan lagi bisa seperti ini. Aku sangat menyayanginya, bahkan teramat sayang hingga detik ini pun dia masih menjadi yang terindah dan tak terlupakan.
        Tapi sepertinya aku salah, dia telah berada di titik terlelah dan sepertinya ingin menyerah. Seberapun hati menyimpan rasa, seberapapun rasa ingin memiliki, seberapapun perjuangan dilakukan, seberapapun banyak kisah yang terlewati, ketika kepastian tak pernah menjadi nyata, semua hanyalah asa yang kelak hanya akan menjadi kenangan dalam cerita perjalanan.
         Cinta memang tak harus memiliki, yang harus kamu tau kalau aku sangat menyayangi kamu. Aku sayang sama kamu Ren. Tapi mungkin cinta memang tak harus memiliki, kalau kamu butuh aku jangan pernah sungkan untuk bilang yaa. Aku pasti akan selalu bantuin kamu sebisa aku. Aku sayang kamu Rena.
          Pesan singkat itu menyentak hatiku, apakah semua ini akan berakhir? Apakah aku sudah tak bisa lagi bersamanya? Dengan segera aku membalas pesan singkatnya
          Iya Nola, aku juga sayangggggg banget sama kamu. Aku cuma gak mau semuanya berubah. Aku gak mau ngerusak hubungan kita yang uda sedekat dan senyaman ini. Maafin aku karena uda kasih harapan terlalu besar buat kamu. Aku gak ada maksud buat kamu kecewa. Terimakasih kamu masih ingin bantuin aku kalau aku lagi butuh. Satu hal yang harus kamu ingat. Aku selalu sayang sama kamu,Nola
          Setelah saling berbalas pesan singkat kala itu, kami sudah sangat jarang berkirim pesan. Aku pikir hanya ketika putus nanti keadaannya akan berubah, ternyata tanpa kepastian pun keadaan sudah lebih dulu berubah. Tapi, kami masih baik baik saja ketika bertemu, hanya tak lagi saling bertukar kabar lewat pesan singkat. Hanya sesekali ketika ada keperluan.
          Beberapa tahun setelah kejadian itu, aku baru menyadari kalau selama beberapa tahun itu tak lagi kutemukan sosok seperti dia. Aku mengenal beberapa lelaki, tapi bayangan nya masih terus bersamaku. Kenangan bersamanya tak pernah hilang dari ingatanku. Ia terlalu indah dan takkan terganti. Aku sangat merindukannya.
          Aku tersadar, dinginnya malam membuatku larut terlalu jauh dalam kenangan tentangnya. Aku menarik selimut dan kembali ke duniaku sambil memeluk 'Bernard' hingga mata terpejam.        




     
       





Senin, 02 Februari 2015

Rencana Tuhan Lebih Indah


Ketika kamu berdo'a kepada Tuhan utk sesuatu hal dan Tuhan mengabulkan nya.Kamu pasti merasa sangat senang.Tapi, ketika kamu menyadari bahwa kenyataan tak sesuai keinginanmu
Kamu pasti berfikir 'Kenapa seperti ini ? Bukan ini yang aku inginkan!'
Kamu pasti sedih dan kecewa.Padahal sebenarnya Tuhan punya rencana lain.Dia memang tidak memberi sesuai keinginanmu,karena boleh jadi itu tidak baik bagimu.
Dia sedang mengajarkanmu untuk lebih ikhlas menerima keadaan, agar kamu mengerti bahwa yang kamu inginkan belum tentu baik dan sesuai dengan kebutuhanmu.
Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik di depan sana daripada rencanamu. Dia telah mempersiapkan sesuatu yang indah untuk orang-orang yang bersabar.
Kamu pasti sering mendengar kalimat ini 'Semua akan indah pada waktunya'
Aku sangat yakin dengan kalimat singkat itu.Tuhan telah menunjukkan kuasaNya
Yakinlah , Dia tidak akan pernah mengkhianati hambaNya yang senantiasa berdo'a , berusaha , bersabar dan terus bersyukur.
Tuhan tidak pernah tidur ,
Setiap usahamu akan menjadi pertimbanganNya
Seberapa besar kesabaran dan keikhlasanmu serta rasa syukur atas apa yang telah Dia berikan baik itu nikmat atau cobaan,akan sesuai dengan hasil nantinya.
Tuhan itu adil ! Dia tau apa yang harus terjadi pada setiap hambaNya
Hanya saja terkadang kita terlalu sering berfikir bahwa Tuhan dan dunia ini seringkali tidak adil.
Pada kenyataannya, kalimat itulah yang membuat kita tidak pernah melihat keadilan dan kebesaran Tuhan.



Tuhan sudah memberi banyak hal untuk hidup kita
Tapi ketika sesuatu itu diambil kembali atau tidak sesuai dengan keinginan kita, kita pasti berontak dan tidak terima pada kenyataan.Padahal dalam hal ini, seharusnya kita lah yang harus lebih bisa menginstropeksi diri
'Kesalahan apa yang selama ini sudah saya lakukan ?'
'Kenapa saya bisa mengalami ini ?'
Dan ketika kita mau berfikir tentang kesalahan yang pernah kita lakukan
Kita akan sadar, bahwa sebenarnya Tuhan sedang menguji kita.Tuhan sedang memberikan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri.Tuhan sedang memberi ujian untuk kenaikan kelas dalam kehidupan kita.Tuhan akan mengangkat derajat kita dan menjadikan kita lebih kuat ketika mampu melewati ujian dariNya.
Bukankah Tuhan memberikan ujian atau cobaan tak akan melebihi batas kemampuan hambaNya ?
Kita hanya perlu memperbanyak sabar dan syukur serta terus berdo'a
Tetaplah bersyukur atas nikmat sekecil apapun yang diberikan Tuhan untukmu.
Karna ketika kamu tak pernah bersyukur, Tuhan akan mengambil kembali kepunyaanmu
Bahkan menguji mu dengan keadaan dalam kekurangan.
Tapi sebaliknya, ketika kamu mampu bersyukur atas nikmat sekecil apapun yang diberikan Tuhan untukmu.
Percayalah, Tuhan akan memberi kembali bahkan lebih sesuai kebutuhanmu.
Ketika kamu senantiasa mengambil pelajaran dari setiap kejadian
Akan ada begitu banyak hal yang kamu dapatkan
Karna selalu ada pelajaran penting di setiap kejadian~

Minggu, 01 Februari 2015

Tak Seindah Bayangan

Seperti terbangun dari tidur tak sadarkan diri untuk beberapa saat.
Perlahan ku tarik napas panjang, untuk memastikan tak terjadi apapun beberapa waktu itu.
Aku masih gamang, mulai me-reka-reka apa yang baru saja ku dengar
Mengingat setiap kata yang masuk ke telingaku
Apakah itu benar ? Apakah aku tidak salah mendengar ?

Kucoba kumpulkan kembali semua ingatanku
Kucoba tenang dan sejenak berfikir.
Ternyata benar !
Aku baru saja mendengar apa yang seharusnya tak pernah terlintas di telingaku

Hatiku riuh, ia seakan bergejolak
Aku terasa sesak sejenak, seperti ada sesuatu yang menghantam dadaku
Namun kemudian aku tersadar

Logika mulai bereaksi, ia mulai mengambil alih jiwaku
Ia memaksaku berfikir dalam keadaan serumit itu
Aku masih dalam pengaruh nya, hati pun seolah tersingkir
Pengaruhnya terlalu kuat, seakan tak ada celah untuk menolak

Akhirnya kupaksakan untuk mengikuti kemauan nya
Aku bersikeras berfikir dalam keadaan yang menjerat
Tapi, dengan lelah akhirnya kutemukan

Meski hati dan logika seringkali beradu pendapat dan tak ingin berdamai
Percayalah, mereka berada pada porsinya masing-masing

Menurutku,
Ini adalah jawaban
Jawaban atas semua pertanyaan selama ini

Karna selalu ada pelajaran penting di setiap kejadian