Begitu banyak kejadian yang kita lihat akhir-akhir ini di sosial media. Berapa banyak pendaki yang salah mengartikan perjalanan nya sebagai ajang ikut trend, bukan untuk mawas diri, memahami bahwa kita dan alam harus hidup berdampingan, dengan tindakan memalukan seperti menumpuk sampah di gunung yang bisa mencemari alam dan membuat kerusakan. Ketika kita mampu membawa carier yang begitu berat, apa salahnya membawa sampah ringan ikut bersama kita saat naik dan turun. Mungkin sampah yang ringan dan kecil dianggap sepele, tapi ketika hampir seluruh pendaki berfikir seperti itu bagaimana jadinya ? Sampah yang tadinya ringan akan menjadi berat dan menumpuk sehingga mencemari lingkungan.
Di lain hal, kita juga tau bahwa ada sekelompok orang atau lebih tepatnya remaja yang mau eksis dengan cara yang salah. Mereka berfoto untuk mengabadikan moment bermain di taman dengan bunga-bunga yang indah tapi malah merusak bunganya karna terinjak-injak oleh kaki mereka. Ketika kita ingin melakukan sesuatu hal berfikir lah dulu. Untuk beli bunga yang indah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Ini bukan hanya masalah pemerintah, tapi masalah kita bersama. Kalau kotanya indah, sudah pasti yang bangga masyarakatnya juga, bukan.
Dan beberapa hari yang lalu, tepatnya Sabtu, 26 Desember 2015 bertepatan dengan 11 tahun Tsunami, ada kejadian jembatan runtuh di area Hutan Kota Langsa, Aceh. Masalah ini di karenakan kapasitas yang berlebihan. Jembatan yang seharusnya hanya menampung 40 orang, di lewati lebih dari 60 orang. Terlalu banyak orang yang ingin berfoto sehingga membuat kemacetan di sepanjang jembatan. Karena jembatan yang tidak kuat menampung kapasitas yang berlebihan jadilah ia runtuh dan rusak. Seharusnya kita bisa lebih pintar dalam menikmati tempat wisata dan keindahan alam. Tidak ada salahnya mengabadikan moment. Tapi berfikirlah bijak sebelum bertindak. Jembatan yang tadinya sudah menjadi salah satu ikon di Hutan Kota yang sudah bisa kita nikmati dan jaga bersama agar bisa di nikmati oleh semuanya malah harus rusak karena ulah kita sendiri. Jadilah mengulang kerjaan yang sudah selesai. Ini juga akan menghabiskan waktu dan biaya lagi untuk memperbaikinya. Dan bukan dalam jumlah yang sedikit. Mungkin untuk sebagian orang berfikir ini adalah musibah. Benar, ini adalah musibah. Tapi alangkah lebih baik jika kita bisa berfikir lebih jauh untuk menghindari musibah itu terjadi. Pabila kita tilik lagi, pasti banyak pengunjung yang mengalami kerugian karena handphone nya yang terjatuh ke dalam air dan mengenai keselamatan dan kondisi mereka.
Kemanapun kita pergi untuk berlibur atau sekedar menghabiskan waktu dengan orang-orang yang kita sayangi, jangan pernah membuat kerusakan baik itu di taman, gunung, bahkan hutan, dan lain-lain. Karena akan merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Jaga dan lestarikanlah alam dan berbagai tempat wisata agar bisa dinikmati tidak hanya untuk generasi kita tapi hingga anak cucu kita nantinya. Bagaimana jadinya jika keindahan itu tidak lagi bisa dirasakan. Sungguh sangat menyedihkan. Be smart love, guys. Ketika kamu mencintai alam dan keindahannya, cintai juga dirimu dan lingkunganmu agar tidak terjadi kerusakan yang bisa membuat semuanya tercemar sehingga bisa dinikmati bersama-sama. Jangan bangga ketika kamu bisa mem-posting berbagai tempat indah diseluruh Indonesia dan sudah merasa ikut trend yang lagi hits tapi tidak mampu menjaga dan melestarikannya.Karena yang keren itu menjaga bukan merusak. Cintai alam, cintai dirimu, dan cintai lingkunganmu!! Salam lestari
Dan beberapa hari yang lalu, tepatnya Sabtu, 26 Desember 2015 bertepatan dengan 11 tahun Tsunami, ada kejadian jembatan runtuh di area Hutan Kota Langsa, Aceh. Masalah ini di karenakan kapasitas yang berlebihan. Jembatan yang seharusnya hanya menampung 40 orang, di lewati lebih dari 60 orang. Terlalu banyak orang yang ingin berfoto sehingga membuat kemacetan di sepanjang jembatan. Karena jembatan yang tidak kuat menampung kapasitas yang berlebihan jadilah ia runtuh dan rusak. Seharusnya kita bisa lebih pintar dalam menikmati tempat wisata dan keindahan alam. Tidak ada salahnya mengabadikan moment. Tapi berfikirlah bijak sebelum bertindak. Jembatan yang tadinya sudah menjadi salah satu ikon di Hutan Kota yang sudah bisa kita nikmati dan jaga bersama agar bisa di nikmati oleh semuanya malah harus rusak karena ulah kita sendiri. Jadilah mengulang kerjaan yang sudah selesai. Ini juga akan menghabiskan waktu dan biaya lagi untuk memperbaikinya. Dan bukan dalam jumlah yang sedikit. Mungkin untuk sebagian orang berfikir ini adalah musibah. Benar, ini adalah musibah. Tapi alangkah lebih baik jika kita bisa berfikir lebih jauh untuk menghindari musibah itu terjadi. Pabila kita tilik lagi, pasti banyak pengunjung yang mengalami kerugian karena handphone nya yang terjatuh ke dalam air dan mengenai keselamatan dan kondisi mereka.
Kemanapun kita pergi untuk berlibur atau sekedar menghabiskan waktu dengan orang-orang yang kita sayangi, jangan pernah membuat kerusakan baik itu di taman, gunung, bahkan hutan, dan lain-lain. Karena akan merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Jaga dan lestarikanlah alam dan berbagai tempat wisata agar bisa dinikmati tidak hanya untuk generasi kita tapi hingga anak cucu kita nantinya. Bagaimana jadinya jika keindahan itu tidak lagi bisa dirasakan. Sungguh sangat menyedihkan. Be smart love, guys. Ketika kamu mencintai alam dan keindahannya, cintai juga dirimu dan lingkunganmu agar tidak terjadi kerusakan yang bisa membuat semuanya tercemar sehingga bisa dinikmati bersama-sama. Jangan bangga ketika kamu bisa mem-posting berbagai tempat indah diseluruh Indonesia dan sudah merasa ikut trend yang lagi hits tapi tidak mampu menjaga dan melestarikannya.Karena yang keren itu menjaga bukan merusak. Cintai alam, cintai dirimu, dan cintai lingkunganmu!! Salam lestari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar