Senin, 23 Mei 2016

Rindu

Perasaan hadir tanpa pernah diminta
Tanpa tau kepada siapa dan bagaimana caranya
Setiap manusia memiliki rasa, hanya yang sudah tak lagi bernyawa saja diam tak merasa

Di sudut sana, kulihat begitu banyak pasang mata beradu tatap
Mereka saling menyapa bahkan bercanda tawa

Di sudut yang lain, kulihat sebuah meja bermuram durja
Bukan mejanya, tapi pemilik kursinya yang sedang tak bahagia
Ia seperti di rundung pilu yang kian menyiksa
Ntah apa yang sedang dirasa

Sepertinya ia merindu sesosok jiwa di sudut kota
Jarak sedang bercanda dan waktu pun seolah tak membelanya
Mereka begitu sulit bertemu
Bahkan hanya untuk sekedar bertukar sapa
Apakah sesulit ini mempertahankan rasa?

Disaat hati kian membara mengobarkan api rindunya
Disaat itu pulalah ia tersadar bahwa mereka bukanlah siapa siapa
Bagaimana bisa merindu, ketika ia bahkan tidak tau perihal perasaanmu?

Ahh jangan terlalu banyak bergurau
Sudahlah, lupakan saja dia
Hiduplah sebagaimana mestinya,
mencintai yang mencintaimu
Dan merindukan yang sudah menjadi milikmu

Lalu, apakah kau lupa dengan kalimat di awal tadi?
Bahkan diriku tak pernah meminta untuk siapa aku merindu dan kepada siapa aku mencinta
Ini hanyalah perihal rasa, yang kurasa terlalu sulit untuk mencari tau akhir kisahnya

Nikmati sajalah, ia pun kan bahagia pada waktunya
Meski mungkin tak bersama seorang yang selalu di dambakannya
Tapi percayalah, bagaimana pun akhirnya ku yakin kan bahagia
Semesta telah merencanakannya, dan biarkan ia menjalankan perannya

Perihal rindu, bagaimana aku harus menjelaskannya?
Karna ini pun tentang rasa yang tak butuh penjelasan

Hari itu, batinku berdebat hebat dalam percakapan panjang tak berujung pertemuan

Dan aku ...
Masih saja merindu

2 komentar:

  1. Dan aku ...
    Masih saja merindu

    Suka kali sama bagian itu, Kak. Aduh, bacanya baper, hahaha..

    BalasHapus