Aku ditemani boneka beruang putih yang memiliki tulisan 'Bernard Bear' di perut nya. Aku terus memeluk nya dalam dekapanku, serasa tak ingin lepas. Kali ini berbeda, seperti ada sesuatu yang mengusik hati dan pikiranku. 'Bernard' , nama itu mengingatkanku pada sosok seorang lelaki gendut, putih, lucu, dan sangat menyenangkan.
Aku menatap langit-langit kamar. Seolah jiwaku ditarik kedunia itu, dunia yang pernah ku jelajahi sebelumnya. Sosok lelaki itu masih begitu jelas dalam ingatanku. Lelaki yang awalnya hanya seorang teman dekat yang sudah kuanggap sebagai sahabat. Terlalu banyak kisah yang terlewati, terlalu banyak canda tawa yang tercipta, bahkan terselip tangis dan duka di dalamnya. Hingga rasa tak mampu menahan hadirnya.
Aku tak pernah menyangka apalagi menduga bahwa ia menyimpan begitu besar rasa untukku. Aku hanya tau bahwa ia adalah teman paling menyenangkan dan selalu bisa membuatku tertawa dan apa adanya. Ia tau banyak hal tentangku, begitupun aku. Bahkan ia tau kepada siapa aku menyimpan rasa.
Kami sering menghabiskan waktu bersama, bercerita banyak hal, lalu kembali pada dunia sendiri-sendiri. Dua tahun kebersamaan itu kujalani tanpa pernah merasakan apa yang dirasakan olehnya, bahkan hanya sekedar tau tentang perasaannya.
Waktu terus berdetak pada masanya. Hingga waktu juga yang menciptakan jarak dalam kebersamaan itu. Tapi jarak telah mendatangkan keberaniannya untuk mengungkapkan rasa yang sudah terlalu lama di rasakannya.
Aku masih tak percaya, tapi ia terus meyakinkanku bahwa ini nyata. Ia sudah bertahan dalam diam sekian lama hingga tiba masa untuknya berani mengungkap rasa. Terlalu banyak pertanyaan yang melintas di pikiranku, tapi mulutku tak mampu mengucap banyak. Aku hanya diam dan terus memikirkannya.
Aku uda suka dan sayang sama kamu dari dulu, waktu kita masih satu sekolahan.Dan ketika aku pindah, aku baru ngerasa kalau aku kehilangan kamu banget. Aku baru sadar kalau kamu memang penting buat aku.
Aku membaca ulang pesan singkat yang sudah beberapa hari nginap di kotak masuk ponsel genggamku itu. Iya, dia telah pindah sekolah. Aku tak lagi satu sekolahan dengannya. Hari-hariku mulai terasa berbeda semenjak kepergiannya. Aku sering merasa sepi, tak ada lagi yang menghadirkan tawa dan senyum di bibirku. Kali ini aku merindukannya. Sangat merindukannya.
Sejak saat itu, kami sering mengirim pesan singkat dan berbalas hingga baterai ponselku habis tanpa terasa. Ia begitu perhatian, meski kami sudah berbeda sekolah, ia masih sering menjemputku. Kami masih sering menghabiskan waktu bersama di luar jam sekolah. Aku merasa sangat nyaman ketika bersamanya. Ia selalu bisa membuatku bersikap apa adanya dan tertawa bahagia dengan segala lelucon pilihannya. Aku tak mengerti apakah ini yang disebut cinta ? Serangkaian rasa yang hadir tanpa pernah diminta dan tanpa tau kepada siapa ia akan mencinta.
Kami terus menjalani hari bersama, menghabiskan waktu dalam irama dan berbagai panorama. Ini sungguh hal yang sangat menyenangkan. Tapi sepertinya ia mulai butuh kepastian akan ungkapan nya beberapa waktu itu. Ia mulai menanyakan bagaimana dengan hubungan ini? Kemana hubungan ini akan berlayar ? Ia tak mungkin terus berlayar tanpa tujuan.
"Gimana sama hubungan kita? Kita sudah sedekat ini. Kamu mau kan jadi pacarku?", ia memintaku lagi kali ini.
"Aku tau kita uda sangat dekat, tapi aku gak mau semuanya berubah ketika kita putus nanti. Aku sudah terlalu nyaman bersamamu, aku hanya gak sanggup kalau nanti kita jadian keadaannya akan berubah", aku mencoba mengutarakan isi hatiku.
"Aku janji kok, kalau pun nanti kita harus putus semuanya gak akan ada yang berubah. Kita masih tetap sama dan akan terus seperti ini", ia mulai meyakinkanku akan hal itu.
"Itu katamu sekarang, bagaimana nanti? Aku yakin semua akan berubah. Kamu gak akan ada waktu lagi buat aku, kita gak akan bisa sedekat ini", aku masih tidak percaya.
"Aku pastikan kita masih tetap seperti ini. Aku tak pernah musuhan dengan mantanku. Aku yakin semua akan baik baik saja", ia terus meyakinkanku.
"Tapi aku sudah sangat nyaman seperti ini bersamamu, aku gak mau rasa nyaman ini hilang hanya karena kita jadian dan pada akhirnya putus".
"Tapi aku juga butuh kepastian,Rena. Aku sudah punya cukup keberanian untuk mengatakan ini padamu, ayolah semua akan baik baik saja kalau kamu tidak berfikir sejauh itu".
"Baiklah,Nola. Tapi aku butuh waktu untuk semua ini. Aku akan jawab ketika kita lulus Ujian Nasional nanti. Gimana ?"
"Oke. Aku akan ikuti maunya kamu. Aku sayang sama kamu".
Percakapan itu telah mengawali sebuah penantian panjang. Terselip harapan besar didalamnya. Harapan untuk sebuah kepastian di ujung sana. Di waktu yang masih terbilang lama. Setahun bukanlah waktu yang singkat untuk sekedar menunggu jawaban. Mungkin aku terlalu egois ketika itu. Aku terlalu mengikuti keinginanku hingga tak memerdulikan perasaannya.
Dengan rasa yang terus tercipta, kami menjalani hari-hari seperti biasa. Dia selalu setia menemani. Selalu mengerti dan memahami segala hal tentangku. Dia paling tau cara menenangkanku ketika aku kesal, menghentikan air mataku ketika aku menangis, menghiburku ketika aku terlihat murung, dan selalu bisa menciptakan tawa di sela-sela kesedihanku. Aku tak tau apakah aku juga melakukan hal yang sama padanya. Ntahlah
Bersamanya aku bisa menjadi diriku sendiri. Bersamanya hidupku terasa lebih berwarna. Dia juga sering memberi masukan untuk penampilanku. Mulai dari kuku yang harus rapi, potongan rambut yang menarik, dan beberapa hal lain yang menurutnya tidak sesuai. Aku suka ketika dia perduli dan memberi solusi.
Terlalu banyak kenangan indah ketika bersamanya. Setiap kejadian masih tersimpan rapi dalam ingatanku. Bahkan hingga detik ini aku masih sering memikirkannya. Ia terlalu indah dan takkan terganti.
Pernah satu waktu, aku memintanya menurunkan berat badan. Tubuhnya sudah terlalu besar ketika itu. Dan dia butuh olahraga.
"Aku mau nurutin permintaan kamu Ren. Nanti siang aku lari, kamu mau ikut?"
"Boleh, nanti aku ikutan lari. Kamu harus semangat ya"
Aku menemaninya lari siang itu. Dia terlihat bersemangat meski sudah kelelahan.
"Udahan aja dulu kalau kamu capek. Sini istirahat dulu"
"Iya Rena. Eh kamu tau gak?", ia membuka tutup botol minuman dan langsung meneguknya.
"Tau tentang apaan?", aku terlihat penasaran dengan kalimatnya.
"Aku uda beli susu L-Men dan vitamin, lho. Supaya ngebantu nurunin berat badanku"
"Lho beneran? Bagus dong berarti kamu semangat nurunin berat badannya"
"Iya dong, ini kan buat kamu Ren", ia terlihat menggodaku.
"Haha pinter kamu yaaa"
Ia terus berjuang untuk menurunkan berat badannya, mulai dari olahraga rutin, minum susu dan vitamin, sampai diet makanan. Dia mulai tidak makan malam dan nengurangi porsi makannya. Ia terlihat sungguh-sungguh dengan usahanya.
Melihat usahanya, aku mengajukan permintaan bodoh lainnya. Aku memintanya untuk tidak menghubungiku selama sebulan. Kami tidak boleh berkomunikasi dalam waktu yang sudah aku tentukan. Awalnya ia menolak, perjanjian bodoh macam apa ini. Tapi akhirnya ia mengikuti keinginanku. Ini memang hal terbodoh yang pernah aku lakukan, meski kami tetap bertemu tapi jelas saja ini membuatku khawatir akan kabarnya begitupun dia. Ntah apa yang ada di pikiranku saat itu ketika aku meminta hal bodoh ini.
Sebulan berlalu, kami mulai sering mengirim pesan singkat lagi. Aku sering tertawa dan tersenyum malu hanya karena membaca tulisan di layar ponselku. Dia selalu menyempatkan waktunya untukku sesibuk apapun dirinya. Dia tak pernah menolak ajakan ku ketika aku memintanya menemaniku.
Siang itu, ketika pulang sekolah aku diantar olehnya. Rumah terkunci dan aku pergi kerumah bundaku tanpa sepengetahuannya. Aku tak membawa ponselku. Tak ada yang tau kabarku. Hingga sore hari, aku belum tiba di rumah. Orang tuaku jelas mengkhawatirkan anaknya. Ayah menelpon temanku dan bertanya dengan siapa aku pulang sekolah tadi siang. Temanku menyebut nama Nola dan ayah meminta nomer ponselnya dengan segera menghubunginya. Nola sangat ketakutan, apakah aku benar hilang? Ponselku tidak bisa di hubungi dan itu sangat mengkhawatirkan mereka ..
Rena dimana?
Dimana ren?
Kamu baik-baik aja kan?
Pesan singkat itu terus bermunculan di layar ponselku. Dia kesal karena aku tidak mengabari siapapun. Dia ketakutan karena pulang sekolah tadi aku bersamanya. Aku coba menenangkannya meski aku masih terlihat cekikikan mendengar ceritanya. Itu kali pertama aku melihatnya sekhawatir itu. Tapi aku berjanji takkan mengulanginya lagi.
Waktu Ujian Nasional hanya beberapa bulan lagi. Kami semakin dekat dan begitu akrab. Semua terjadi tanpa terasa, waktu berdetak seolah melaju pada kecepatan tinggi. Aku terlalu menikmati saat-saat bersamanya hingga lupa pada janji yang telah terucap kala iya mengucap rasa dan meminta jawaban atas segalanya.
Hingga Ujian Nasional selesai dan perayaan hari perpisahan terlaksanakan, kami masih berjalan tanpa ikatan. Bergandengan tangan sambil berjalan berdampingan tanpa tau apakah akan sampai kepada satu tujuan. Aku masih sangat menikmati waktu bersamanya, kami saling menyayangi meski aku masih bertahan tanpa ikatan, tanpa status yang hanya akan menjadikan semuanya berbeda.
Setelah menghadiri acara perpisahan murid kelas IX di sekolahnya, kami menyempatkan keliling kota sebelum malamnya ia berangkat bersama rombongan sekolahnya untuk rekreasi.
"Ntar malam aku berangkat ke Berastagi, kamu mau aku belikan apa disana?"
"Apa yang kamu suka aja, kamu gak lama kan disana? Aku pasti bakalan rindu"
"Ia tenang aja, aku pasti cepat pulang dan ketemu kamu lagi"
Beberapa hari tanpa hadirnya terasa sepi, hingga waktu mempertemukan dua remaja yang sudah saling merindu. Sore itu dia menghubungiku, memberitahu bahwa dia sudah pulang dan ingin mengajakku jalan. Aku tak menolaknya karena tau betapa rindu hatiku beberapa hari ini.
"Kapan kamu pulang?"
"Tadi pagi Ren, aku uda gasabar ingin ketemu kamu makanya sore ini langsung ajak kamu jalan"
"Kamu bisa aja, rinduku juga sama sepertimu"
"Eh iya, aku belikan kamu sesuatu. Aku yakin kamu pasti suka deh", ia mengeluarkan sesuatu dari bagasi motornya.
"Apa itu? Wahhh cantik banget, bentuknya hati gitu, aku sukaa", mataku mengarah pada sebuah kalung ukiran kayu yang berbentuk hati dengan tali sederhana di tangannya.
"Alhamdulillah kamu suka, aku seneng. Kamu mau pakai sekarang?"
"Boleh, terimakasih ya Nola"
"Iya Rena, kamu terlihat cantik. Dijaga baik-baik ya Ren"
"Iya Nola, aku pasti bakal terus jagain kalung ini dengan baik. Aku janji"
Seperti janjiku padanya, hingga detik ini kalung itu masih tersimpan rapi dan sesekali aku masih suka memakainya.
Ketika aku berekreasi bersama rombongan sekolah ke Prapat, aku juga tak lupa membelikan sesuatu untuknya. Setelah berjalan keliling-keliling melihat berbagai buah tangan hasil kerajinan tangan, miniatur gitar kayu menyita pandanganku. Aku langsung mengingat Nola. Dia suka nyanyi dan pandai bermain gitar, aku rasa ini cocok untuknya. Aku membelinya dan memberikan kepada Nola pada suatu malam ketika aku memintanya menemaniku ke acara temanku. Kunci motorku hilang dan aku sangat panik, syukur dia bisa mengantarkanku malam itu.
Seperti yang ku katakan sebelum-sebelumnya, aku merasa sangat nyaman bersamanya hingga tak pernah memikirkan tentang status. Yang ada dalam pikiranku, kami akan terus seperti ini tanpa perlu status yang ketika semuanya berakhir, kami takkan lagi bisa seperti ini. Aku sangat menyayanginya, bahkan teramat sayang hingga detik ini pun dia masih menjadi yang terindah dan tak terlupakan.
Seperti yang ku katakan sebelum-sebelumnya, aku merasa sangat nyaman bersamanya hingga tak pernah memikirkan tentang status. Yang ada dalam pikiranku, kami akan terus seperti ini tanpa perlu status yang ketika semuanya berakhir, kami takkan lagi bisa seperti ini. Aku sangat menyayanginya, bahkan teramat sayang hingga detik ini pun dia masih menjadi yang terindah dan tak terlupakan.
Tapi sepertinya aku salah, dia telah berada di titik terlelah dan sepertinya ingin menyerah. Seberapun hati menyimpan rasa, seberapapun rasa ingin memiliki, seberapapun perjuangan dilakukan, seberapapun banyak kisah yang terlewati, ketika kepastian tak pernah menjadi nyata, semua hanyalah asa yang kelak hanya akan menjadi kenangan dalam cerita perjalanan.
Cinta memang tak harus memiliki, yang harus kamu tau kalau aku sangat menyayangi kamu. Aku sayang sama kamu Ren. Tapi mungkin cinta memang tak harus memiliki, kalau kamu butuh aku jangan pernah sungkan untuk bilang yaa. Aku pasti akan selalu bantuin kamu sebisa aku. Aku sayang kamu Rena.
Pesan singkat itu menyentak hatiku, apakah semua ini akan berakhir? Apakah aku sudah tak bisa lagi bersamanya? Dengan segera aku membalas pesan singkatnya
Iya Nola, aku juga sayangggggg banget sama kamu. Aku cuma gak mau semuanya berubah. Aku gak mau ngerusak hubungan kita yang uda sedekat dan senyaman ini. Maafin aku karena uda kasih harapan terlalu besar buat kamu. Aku gak ada maksud buat kamu kecewa. Terimakasih kamu masih ingin bantuin aku kalau aku lagi butuh. Satu hal yang harus kamu ingat. Aku selalu sayang sama kamu,Nola
Setelah saling berbalas pesan singkat kala itu, kami sudah sangat jarang berkirim pesan. Aku pikir hanya ketika putus nanti keadaannya akan berubah, ternyata tanpa kepastian pun keadaan sudah lebih dulu berubah. Tapi, kami masih baik baik saja ketika bertemu, hanya tak lagi saling bertukar kabar lewat pesan singkat. Hanya sesekali ketika ada keperluan.
Beberapa tahun setelah kejadian itu, aku baru menyadari kalau selama beberapa tahun itu tak lagi kutemukan sosok seperti dia. Aku mengenal beberapa lelaki, tapi bayangan nya masih terus bersamaku. Kenangan bersamanya tak pernah hilang dari ingatanku. Ia terlalu indah dan takkan terganti. Aku sangat merindukannya.
Aku tersadar, dinginnya malam membuatku larut terlalu jauh dalam kenangan tentangnya. Aku menarik selimut dan kembali ke duniaku sambil memeluk 'Bernard' hingga mata terpejam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar