Tiba-tiba saja kepalaku sakit. Seperti ada beban berat yang menimpanya. Pikiranku melayang, ntah apa saja yang melintas di kepalaku. Rasanya aku ingin berbaring. Tapi untuk bangun dari tempat duduk ini saja kaki ku tak kuat lagi. Aku merogoh tas selempang yang ada di tanganku. Dengan cepat ku acak acak isi tas itu untuk mencari ponsel genggam. Kenapa aku tidak menemukannya? Kemana ponsel genggam itu? Aku terus menggumam.
Aku bingung, tiba-tiba saja di hadapanku lewat seorang lelaki yang kelihatannya sedang menunggu keberangkatan. Aku memberanikan diri untuk menyapanya.
"Maaf bang, boleh saya minta tolong?"
"Iya kak, tolong apa yaa?"
"Saya boleh pinjam ponsel genggam nya? Punya saya gak ada di tas ini, saya lupa naruh nya dimana tadi karna terburu-buru"
"Iya kak, silahkan pakai saja", lelaki itu mengulurkan tangan sambil memberikan ponsel genggam itu padaku. Aku langsung mengambilnya dan dengan segera menekan nomer pacarku. Panggilannya sudah tersambung. Tapi kenapa dia tidak mengangkat telfon dariku? Aku mengulanginya lagi dan terdengar suara di ujung sana.
"Hallo maaf dengan siapa ini?"
"Ini aku sayang, kamu lagi di mana?"
"Ohh Vita, aku lagi di kantor. Ini nomer baru kamu sayang?
"Nggak sayang, aku lupa naruh ponselku dimana soalnya tadi buru-buru. Aku pinjam ponsel seseorang yang aku temui di terminal ini".
"Yaampun kamu ceroboh banget sih, ini kamu uda berangkat?"
"Yaa gimana, aku pusing banget sayang. Belum, ini masih nunggu bus nya sekitar 10menitan lagi deh datangnya"
"Kamu uda minum obat? Makanya kamu jangan kecapek-an terus kan jadinya sakit gitu"
"Iya sayang, lagi sakit gini malah di ceramahin kamu deh. Belum sayang, ini aku gak tau beli obat nya dimana di terminal gini"
"Yauda coba kamu tanya di warung-warung gitu obat pusing, kali aja ada"
"Iya sayang, ini aku mau nyari dulu"
"Yauda kamu cepat sembuh yaa sayang, ntar istirahat aja di bus. Aku ada meeting lagi ni, bye sayang hati-hati yaa, jaga kesehatan kamu. Mmmuahh
"Iya sayang, makasih ya", tanpa jawaban apapun lagi dari ujung sana telfon nya sudah terputus. Raka sudah lebih dulu mematikannya.
Badanku lemas sekali, aku memberikan ponsel genggam itu pada lelaki tadi.
"Makasih ya bang ponselnya, maaf kalau saya memakai pulsanya terlalu banyak"
"Iya gapapa kak, maaf namanya siapa ya? Kelihatannya kakak kurang sehat, biar saya belikan obat ya"
"Panggil saja Vita, jangan kakak. Abang namanya siapa ? Maaf kalau lagi-lagi saya merepotkan abang. Saya lagi pusing banget, rasanya buat bangun dari kursi ini aja berat"
"Hehe iya Vita. Panggil saja bang Dimas. Saya nggak merasa direpotkan kok. Yasudah sebentar yaa saya belikan di warung itu dulu"
"Iya bang. Terimakasih ya sebelumnya, saya jadi gak enak sama abang"
"Gapapa lagi, santai aja"
Lelaki itu meninggalkanku dan tak lama ia kembali dengan kantong plastik yang berisi makanan,minuman, dan obat untukku.
"Nih, kamu makan rotinya dulu terus langsung minum obatnya. Itu bus nya uda datang"
"Iya bang, sekali lagi makasih ya abang uda perhatian banget sama aku"
"Iya Vita, kamu tujuan ke Banda Aceh juga?"
"Iya ni, sama dong kita yaa"
"Iya Vita, kamu kursi nomer berapa?"
"Aku nomer 9 bang, abang sendiri?"
"Lohh aku nomer 10, kenapa bisa kebetulan bareng gini kita yaa"
"Hehe iya bang, kok bisa yaa. Aku juga gak nyangka kita bakal duduk bareng selama perjalanan nanti. Setidaknya aku jadi ada temen ngobrol"
"Iya jadi gak garing gitu perjalanannya ya. Yaudah naik yuk itu bus nya udah mau jalan. Kamu uda selesai minum obatnya kan?"
"Iya, udah kok bang. Yauda yuk kita naik"
"Sini aku bantuin, kamu kan masih lemes banget", ia memapahku hingga ke dalam bus. Kami duduk berdampingan.
Bus sudah berjalan maju, penumpangnya tidak terlalu penuh. Masih ada beberapa kursi kosong yang belum terisi. Aku sangat menikmati perjalanan ini. Lelaki itu orang yang menyenangkan.
"Gimana sakitnya ta? Kamu masih ngerasa pusing?"
"Alhamdulillah sih udah mendingan bang. Cuma masih sedikit lemas aja"
"Yaudah kamu istirahat dulu aja, sini sandaran di bahuku"
"Kan aku jadi ngerepotin abang lagi. Baru juga ketemu udah nyusahin banget ya bang"
"Nggak kok ta, aku ikhlas ngelakuinnya. Kamu kan lagi kurang sehat, gak mungkin aku biarin kamu gitu aja"
"Makasih ya bang, kalo aja pacarku seperhatian abang"
"Emang pacar kamu gak perhatian ya?"
"Dia cuek banget, walaupun sering romantis juga. Tapi dia sibuk banget sama kerjaannya. Sampe aku mau liburan aja harus pergi sendiri gini"
"Ohh kamu ke Banda ini dalam rangka liburan ta? Sama dong, aku juga mau liburan kesana. Niatnya sih mau ke sabang juga"
"Iya bang, loh kok bisa barengan gini lagi ya. Aku juga mau sekalian ke sabang. Disana ada saudara yang udah nungguin kedatanganku"
"Gimana kalau kita barengan aja ke sabangnya? Kayanya lebih seru kalau ada temen"
"Iya boleh ajasih. Abang disana sendirian?"
"Iya, tadinya aku mau menenangkan diri dan mencari suasana baru untuk menyenangkan hatiku. Tapi semenjak ketemu kamu di terminal tadi, aku sudah sedikit merasa tenang"
"Abang lagi ada masalah? Alhamdulillah kalau abang sudah sedikit merasa tenang"
"Aku di khianati oleh perempuan yang sudah 3tahun ini ku cintai. Aku melihatnya sedang bermesraan dengan lelaki lain. Aku gak tau alasannya apa, karena aku tak pernah mau tau lagi. Dia bilang kepadaku kalau dia lebih memilih lelaki itu dan aku diminta untuk melupakannya. Maaf aku jadi curhat gini sama kamu"
"Iya gapapa kok bg, kalo abang mau cerita silahkan aja, aku siap kok dengerinnya"
"Makasih ya vita"
Aku dan lelaki ini mulai cerita banyak hal tentang kehidupan masing-masing. Mulai dari kuliahku, pekerjaannya, hoby, cita-cita, rencana kedepannya, keluarga, masa lalu, bahkan sampai ke hal politik. Tawa saling bersambutan di sela-sela percakapan itu. Aku tak menyangka bakal punya pembicaraan yang sangat menarik dengan lelaki ini. Beberapa jam kami habiskan dengan obrolan penuh makna yang membuat kami saling mengenal sejak hari ini, di bus ini.
Di luar hujan, pendingin ruangan di dalam bus membuatku semakin kedinginan. Aku memangku kedua tanganku di depan dada. Aku berusaha menghangatkan diriku sendiri dengan mengusap-usap kedua telapak tanganku. Tiba-tiba saja ada baju tebal yang menimpa tubuhku. Aku merasa sedikit hangat dengan baju ini.
"Pakai ini aja, setidaknya kamu gak terlalu kedinginan"
"Iya bang, makasih lagi yaa. Aku uda ngerasa lebih hangat kok sekarang"
Tiba-tiba saja dia meraih bahuku dan merangkulku di bahunya. Aku kaget. Kenapa lelaki ini begitu perhatian padaku. Belum seharian aku bersamanya, sudah berkali-kali aku kagum dibuatnya. Kali ini aku merasa jauh lebih hangat dalam dekapannya. Aku merasa begitu nyaman, ntah hanya sekedar kagum atas sikapnya atau memang dia telah membuatku berkhianat pada cintaku dengan jatuh cinta padanya.
"Pacar kamu uda hubungi kamu?", suara lelaki itu membuyarkan lamunanku.
"Ng..ng.. belum nih bang. Mungkin dia masih sibuk"
"Coba kamu hubungi dia duluan. Menelfon atau sekedar ngirim pesan singkat. Mungkin dia sedang mengkhawatirkanmu"
"Ngga lah, dia terlalu sibuk dengan dunianya hingga sering mengabaikan aku"
"Coba hubungi saja dulu, mungkin kamu salah paham"
"Abang kenapa belain Raka terus, sih?"
"Aku nggak belain siapa-siapa. Aku cuma bicara sesuai keadaan. Sudah beberapa jam kamu dalam perjalanan tapi tak memberi kabar apapun padanya. Bukannya terakhir kali kalian telfonan kamu mengeluh sakit padanya? Mungkin saja dia sedang memikirkan keadaanmu. Itu saja, Vita"
Aku memikirkan omongan yang baru saja di lontarkan lelaki itu, sepertinya dia benar. Aku gak boleh egois, aku juga harus mengingat pacarku.
"Baiklah bang. Aku akan menghubunginya", aku merogoh tas selempangku. Dan, aku tiba-tiba saja ingat. Bukankah ponselku hilang? Terakhir kali menelfon aku meminjam ponsel lelaki itu. Aku memberanikan diri lagi untuk meminjam ponsel kedua kalinya.
"Maaf bang, boleh gak kalau aku pinjam ponsel bang Dimas lagi? Ponselku kayanya beneran hilang deh"
"Tentu,pakailah", aku mengambil ponsel itu dengan sedikit rasa malu.
Sejak pertama bertemu lelaki itu hingga detik ini, aku masih saja merepotkannya. Sejenak aku berfikir, lain kali aku harus membalas kebaikannya. Pikiranku dengan cepat berganti kepada pacarku, aku langsung menekan nomer ponselnya. Menunggu beberapa detik panggilan tersambung, aku menunggu jawaban darinya. Menunggu suara itu menyapaku. Tak ada jawaban. Aku mengulanginya berkali-kali. Masih saja tak ada jawaban. Akhirnya aku mengirimnya pesan singkat.
Sayang, aku udah enakan nih. Kepalaku udah gak pusing lagi. Aku baik-baik aja sekarang, ini masih dalam perjalanan nanti kalau udah tiba di Banda Aceh aku kabari lagi ya. Kamu jaga kesehatan jangan terlalu capek. Aku sayang kamu :*
Bersambung,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar