Aku sudah sejak tadi berada disini, dengan segelas cappucino hangat di meja hadapanku. Aku menikmati minumanku sambil memperhatikan seorang gadis di sudut sana. Iya telah berada disitu sebelum aku tiba. Sepertinya ia sedang terlalu asik dengan dunianya. Ia menggunakan earphone di telinga dan sebuah buku bacaan di tangannya. Sudah satu jam lebih aku disini, tapi tak kulihat sekalipun ia menolehkan wajahnya. Ia menikmati chocolate yang sering di pesannya itu.
Sudah dua bulan ini aku mengikuti gadis itu. Awalnya aku tak pernah melihatnya. Dua bulan yang lalu, tepatnya ketika hujan turun begitu deras aku memilih berteduh di cafe ini . Aku duduk sambil menikmati cappucino hangat, dan tiba-tiba pandanganku mengarah padanya. Mataku seakan tak ingin pergi darinya. Aku terus memandangnya. Keesokan harinya, aku mulai penasaran pada gadis itu. Aku datang lagi ke cafe itu dan berharap dia ada disana. Mungkin ini adalah hal yang bodoh. Ketika kita hanya me-reka-reka keberadaan seseorang tanpa benar-benar menanyakannya. Tapi ntah kenapa, aku merasa yakin kalau aku akan melihatnya lagi disana. Tak ambil pikir panjang lagi, aku segera mendatangi cafe itu. Dan, benar saja! Aku menemukan gadis itu lagi dengan kebiasaannya seperti kemarin. Dia masih dengan earphone, segelas chocolate, dan buku bacaan di tangannya.
Sejak dua bulan ini aku terus bertanya-tanya dalam hati. Siapakah gadis ini? Kenapa dia selalu mengunjungi cafe ini sendirian? Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Aku ingin masuk ke dunia yang terlalu dinikmatinya. Ia seolah tak pernah perduli pada sekitarnya. Mungkin dunia nya terlalu menarik tanpa perlu mengetahui apa yang terjadi di sekelilingnya. Ingin sekali aku menyapanya. Tapi seakan tak punya keberanian, akhirnya aku mengurungkan kembali niat itu. Aku hanya mampu menatapnya dari jauh. Melihat rambutnya yang selalu tergerai indah, hidungnya yang tidak terlalu mancung namun membuat hidungku seakan ingin mendarat disana. Matanya yang tak kuketahui bagaimana bentuk aslinya, karena selama ini selalu tertutup kaca mata besar yang di pakainya. Tubuhnya yang ramping dan tinggi yang sesuai membuatnya terlihat lebih menarik. Di tambah lagi kulit putihnya yang begitu lembut memancarkan aura kelembutan dalam dirinya.
Sore itu, aku sudah terlalu penasaran. Tapi, aku masih saja belum punya keberanian untuk langsung menyapanya. Aku mencoba bertanya pada salah satu pelayan di cafe itu.
"Kak,kak tolong kesini sebentar"
"Iya bang, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya cuma mau nanya nih. Gadis yang di sana itu memang sering banget kesini ya?",aku mengarahkan telunjukku ke arah gadis itu.
"Ohh kak Cika. Iya dia memang sering banget kesini bang. Dia pelanggan setia cafe ini sejak setahun yang lalu. Dulu sih, dia selalu bareng pacarnya kesini. Mereka pasangan yang kompak banget, aku seneng banget kalau uda liat mereka ketawa-ketawa bareng. Tapi semenjak bang Riko kecelakaan dua bulan yang lalu, kak Cika jadi pendiem gitu. Dia gak pernah ketawa lagi bahkan cuma untuk senyum aja susah banget. Dia hanya asik dengan musik dan bacaannya", pelayan itu menceritakan tentang gadis itu, sepertinya dia tau banyak hal.
"Wah, kamu tau banyak tentang dia ya. Ohh jadi namanya Cika".
"Kak Cika itu orangnya ramah dan baik banget bang. Dia uda nganggap cafe ini kaya rumahnya dan pelayan disini kaya keluarganya. Dia gak pernah sombong sama kita. Kalau pelanggan lagi sepi, saya sering di ajak ngobrol sama kak Cika. Makanya, saya tau banyak tentang dia. Tapi, semenjak kepergian bang Riko saya sering sedih melihat kak Cika yang uda gak seperti dulu lagi", pelayan itu terus bercerita dan dia mulai terlihat sedih dengan ceritanya.
"Emang pacarnya meninggal kenapa? Dia sayang banget ya sama pacarnya", aku mulai tertarik dengan cerita pelayan ini.
"Setau saya, bang Riko meninggal dalam kecelakaan motor seminggu sebelum pertunangan mereka. Mereka uda pacaran tiga tahun dan tentu kak Cika sayang banget sama bang Riko. Mereka sudah berencana nikah tahun depan. Tapi takdir berkata lain, dan kak Cika harus kehilangan bang Riko setragis itu", tanpa sadar air mata pelayan ini sudah membanjiri pipinya.
"Maaf kak, saya membuat kamu sedih karena menanyakan tentangnya", aku memberikan tissue untuk pelayan itu.
"Gapapa kok bang. Saya hanya terharu kalau ingat kisah kak Cika apalagi lihat dia yang uda kehilangan keceriaannya. Abang suka sama kak Cika yaa? Saya perhatikan abang juga sering kesini", pelayan ini mulai menyadari keberadaanku.
"Saya turut sedih mendengar cerita tentangnya. Saya pikir selama ini ia adalah gadis yang sombong dan gak perduli sama lingkungannya. Ternyata saya keliru. Sudah dua bulan ini saya memperhatikan dia, saya mulai tertarik padanya. Hanya saja saya gak punya keberanian untuk menyapa dan berbicara padanya".
"Sepertinya dua bulan adalah waktu yang cukup untuk sekedar menyapa. Mungkin dengan kehadiran abang, kak Cika bisa mengembalikan senyum dan keceriaannya", pelayan itu memberikan saran yang patut untuk aku pertimbangkan "Sepertinya benar katamu, saya akan mencobanya", aku berusaha meyakinkan diriku. "Maaf bang, saya sudah terlalu lama disini. Ada pelanggan yang datang, saya harus melayani mereka", ia tersadar bahwa telah cukup lama mengabaikan pekerjaannya.
"Baiklah, maaf saya telah mengganggu waktumu. Dan terimakasih untuk saran dan cerita darimu. Selamat bekerja kembali". "Iya sama-sama bang, lain kali kembalilah kesini", ia meninggalkan mejaku dan kembali melakukan pekerjaannya.
Aku mulai memikirkan apa yang di katakan pelayan tadi. Kali ini aku harus berani. Yaa, aku harus memberanikan diriku untuk mengenalnya. Seminggu setelah pembicaraanku dengan pelayan di cafe itu. Aku mendatangi cafe itu lagi. Kali ini aku tidak akan membuang-buang waktu.
Aku masuk ke cafe itu. Dan, sepertinya ada yang berbeda. Kemana gadis itu? Kenapa dia tidak kelihatan? Bukankah dia selalu kesini pukul 4 sore? Aku melirik jam tanganku untuk memastikan aku tidak datang lebih awal. Benar saja, ini sudah pukul 4 lewat 20 menit. Berbagai pertanyaan mulai menghiasi kepalaku. Mereka terus berputar-putar hingga membuatku pusing. Aku duduk sejenak. Pandanganku sedikit buram. Aku berusaha menenangkan pikiranku.
"Maaf bang, mau pesan apa yaa?", suara itu mengagetkanku.
"Eh,iya kak. Cappucino seperti biasa ya. Ohhiya, saya tidak melihat Cika hari ini. Kemana ya dia?".
"Iya bang. Kak Cika udah berangkat ke luar negeri dua hari yang lalu. Dia bilang pada saya dia ingin menjalani kehidupan baru. Terlalu banyak kenangan disini dan dia ingin menyembuhkan lukanya. Ia merasa sangat kehilangan. Kalau dia terus berada disini ia tak akan pernah keluar dari dunia yang menjeratnya tenggelam dalam kenangan", kalimat-kalimat itu membuatku sesak. Kenapa harus secepat itu? Aku baru saja merasa yakin dengan tindakan yang akan aku ambil.
"Luar negeri? Baru saja saya ingin mengenalnya lebih dekat, dia sudah pergi jauh meninggalkan tempat ini. Apakah dia bilang kalau dia akan kembali?".
"Tidak bang. Dia belum bisa memastikan apakah akan kembali lagi atau tidak ke Indonesia".
"Baiklah. Terimakasih atas informasinya".
"Iya samasama bang", pelayan itu meninggalkan mejaku.
Aku menatap kursi di sudut sana. Hatiku perih seakan sesak. Aku seperti kehilangan sesuatu yang tak pernah kumiliki. Hatiku seolah ikut bersamanya. Tak ada lagi sosok gadis berkaca mata dengan rambut tergerai indah dan earphone serta buku bacaan di tangannya yang selalu ku tatap di cafe ini.
Aku hanya menatap langit. Cafe ini menjadi saksi. Berharap suatu saat nanti ia akan kembali dan kami bertemu di tempat ini lagi dengan aku yang sudah bisa mengungkapkan apa yang selama ini telah terpendam. Aku ingin mengenal dunianya lebih dekat. Dia memang tak pernah mengetahui sosokku yang diam-diam telah tercuri hati karenanya. Biarlah rasa ini tersimpan sampai waktu yang akan memberikan jawaban.
Sedih kali kak ceritanyaaa :') baru juga mau kenalan, eh udah pergi aja, haha..
BalasHapushehee iyaa dek, karna waktu gaakan pernah kembali ..
BalasHapusgaada salahnya untuk sekedar menyapa :D